Ahlusunnah wal Jamaah

Makna Ahlussunnah wal jamaah.

Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ahlu yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan. Dan kata Sunnah yang berarti apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiyamat.

Namun dalam perspektif syariah (fiqh) kata sunnah sering diartikan dengan Perbuatan yang kalau dilakukan mendapat pahala, dan kalau ditinggalkan tidak mendapat dosa. Namun yang dimaksud dengan As-Sunnah” di sini adalah adalah,” Thariqah (jalan hidup) Nabi r yang juga dilalui oleh para shahabat yang telah selamat dari syubhat dan syahwat”. Fudhail bin Iyadh berkata,”Ahlus Sunnah adalah orang yang mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya dari (makanan) yang halal”.

Karena tidak memakan yang haram termasuk salah satu sunnah yang dilakukan oleh Nabi r dan para shahabat.

Dengan demikian maka Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah r dan sunnah shahabatnya. Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar Rasulullah r dan atsar para shahabatnya adalah Ahlus Sunnah”.

Adapun kata jamaah berarti bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari Kiyamat.

Sedangkan menurut istilah, dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ” Ahlussunnah wal jamaah adalah orang yang mengamalkan sunah Rasulullah dan berkumpul di dalamnya dengan beribadah kepada Allah baik dalam masalah aqidah (keyakinan), perkataan, perbuatan, dan panutannya adalah Shalafusshalih dari sahabat, tabiin dan pengikut tabiin”.

Kreteria Ahlussunnah wal jamaah

DR. Nashr Al-Aql dalam kitabnya “Mafhum Alhlussunnah inda Ahllussunnah”, menyebutkan beberapa kreteria Ahlussunnah wal jamaah di antaranya;

1.    Mereka adalah sahabat Rasulullah yang mengerti, melihat dan mengamalkan sunnah Rasullullah pertama kalinya, oleh sebab itulah mereka berhak mendapat gelar demikian. Begitu juga para tabiin yang mengambil sunnah dari sahabat dan mengamalkannya tanpa menambah dan menguranginya. Dan juga para pengikut tabiin dan orang-orang setelahnya sampai hari kiyamat yang berusaha mencontohi dan mengikuti mereka dalam masalah akidah dan ibadah.

2.    Ahlussunah adalah para salafusshalih yang mengamalkan Kitab dan Sunah sesuai dengan petunjuk Rasulullah e , Yang mengikuti teladan para sahabat, tabiin dan ulama-ulama yang tidak pernah merubah dan membuat hal-hal yang baru dalam agama Allah.

3. Ahlussunnah wal jamaah adalah firqatunnajiyah (golongan yang selamat) di antara golongan-golongan yang ada. Yang selalu mendapatkan pertolongan dari Allah sampai hari kiyamat.

4. Mereka adalah orang–orang yang ghuraba’ (asing) karena tetap berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dalam keadaan yang orang lain melupakan dan meninggalkannya. Mereka juga memperjuangkan tegaknya As-Sunnah di saat tersebarnya bid’ah dan kesesatan dan kerusakan, sebagaimana sabda Nabi e,”Islam muncul pertama kali dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana semula. Maka beruntunglah orang–orang yang asing”. Dalam riwayat lain disebutkan, “Beruntunglah al-Ghuraba’ yaitu orang yang shalih di tengah manusia yang jahat, orang yang mengingkarinya lebih banyak dari yang mengikutinya”.

5. Dinamakan Ahlussunnah karena mereka mengamalkan sunah sebagaimana mestinya. Berdasarkan sabda Nabi e “Amalkanlah sunnahku”.

Penamaan Ahlussunnah dilakukan setelah terjadinya fitnah pada awal munculnya firqah-firqah. Ibnu Sirin berkata,”Mereka (pada mulanya) tidak pernah menanyakan tentang sanad. Ketika terjadi fitnah (para ulama) mengatakan: Tunjukkan (nama-nama) perawimu kepada kami. Mereka melihat bila ia termasuk Ahlus Sunnah hadits mereka diambil, dan bila termasuk ahlul bi’dah maka hadits mereka tidak di ambil”.

Al-Imam Malik pernah ditanya :”Siapakah Ahlus Sunnah itu ?. Beliau menjawab,”Ahlussunnah adalah mereka yang tidak mempunyai laqab (julukan) yang sudah terkenal seperti Jahmi, Qadari, atau Rafidli”.

Istilah Ahlus Sunnah sudah terkenal dikalangan Ulama Mutaqaddimin (terdahulu) sebagai kebalikan dari istilah Ahlul Ahwa’ wal Bida’ dari kelompok Rafidlah, Jahmiyah, Khawarij, Murji’ah dan lain-lain. Ahlus Sunnah adalah orang yang tetap berpegang pada sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah e dan para shahabatnya. Jadi gelar Ahlussunnah bukanlah hal-hal yang muhdats (dibuat-buat baru), tetapi mempunyai sandaran syar’I yaitu:

1.    Sunnah Rasulullah e karena beliau memerintahkan untuk mengamalkan sunnahnya. Dan memerintahkan untuk berjamaah dan melarang untuk berpecah belah dan keluar darinya. Jadi Ahlussunnah adalah gelar yang diberikan langsung oleh Rasulullah e.

2.    Bersumber dari atsar para sahabat dan generasi terbaik umat ini dari sifat mereka yang telah disepakati oleh para ulama umat yang mereka tulis dalam kitab-kitabnya.

3.    Sebuah nama yang dipakai untuk membedakan mereka dengan pelaku bid’ah, bukan seperti yang dituduhkan bahwa istilah ahlussunah tidak muncul kecuali setelah terjadi perpecahan di antara umat Islam.

IV. Apakah mereka terbatas hanya pada satu masa dan tempat?.

Ahlussunnah tidak hanya terbatas pada satu priode dan tempat. Tetapi terkadang mereka lebih banyak di suatu tempat atau masa dan berkurang di masa atau tempat yang lain.

Beberapa karakteristik dari Ahlussunah yang disebutkan sendiri oleh para salafusshalih adalah ;

1. Mereka yang berpegang pada tali Allah yang kuat.

Abu Bakar al-Shiddik t berkata, “ As-Sunnah adalah tali Allah yang kuat, barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah memutus talinya Allah”, Umar bin al-Khattab t menambahkan,“Sesungguhnya Ashabussunan (pengamal sunnah) itu lebih mengetahui tentang Kitabullah”.

2. Mereka adalah teladan baik yang mengajak kepada jalan yang benar.

Umar bin Qais al-Malaiy (wafat tahun 143 H) berkata, “Apabila anda melihat seorang pemuda yang tumbuh dewasa bersama Ahlussunnah maka peliharalah, dan kalau besar bersama pelaku bid’ah maka jagalah dirimu darinya. Karena sifat seorang akan tumbuh dewasa sesuai dengan masa kanaknya”. Dalam kitab kitab yang sama ditambahkan, “Sesungguhnya pemuda apabila bergaul dengan orang alim maka akan selamat, tetapi apabila bergaul dengan yang lainnya maka akan terpengaruh Ibnu Syaudzab (wafat tahun 120 H) berkata, “Termasuk nikmat Allah kepada pemuda apabila dewasa diberikan taufik untuk bergaul dengan pelaku sunnah”.

Demikian juga yang dikatakan oleh as-Sahityani (wafat tahun 131 H), “Termasuk kebahagiaan bagi seorang apabila diperkenankan oleh Allah untuk bergaul dengan Ahlussunnah”. Dan dari Ibnu Abbas diriwayatkan ketika menafsirkan firman Allah surat Ali Imran ayat 106 beliau mengatakan,” Adapun orang yang putih mukanya adalah Ahlussunnah wal Jamaah, dan orang yang hitam mukanya adalah ahli bid’ah dan kesesatan “.

3. Mereka tidak mau diberi gelar dan atribut kecuali dengan nama Ahlussunah.

Barang siapa yang bergabung pada kelompok yang bukan Ahlussunah maka akan mendapatkan kerugian dan kebinasaan karena Ahlussunah-lah golongan yang selamat karena mendapatkan pertolongan dari Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah, dan itulah jalannya orang–orang yang mukmin. Ibnu Abbas berkata,”Barang siapa yang mengikuti kelompok-kelompok pelaku bid’ah ini maka dia telah melepaskan ikatan Islam dari dirinya.“ . Ketika Imam Malik ditanya siapakah Ahlussunnah itu ?, beliau menjawab, “Mereka orang yang tidak mempunyai nama lain atau identitas yang dikenal dengannya seperti Jahamiy (pengikut kelompok Jahamiyah), Rafidhiy (pengukut Rafidhah) atau Qadhariy (pengikut Qadariyah)”.

Begitu juga jawaban Ibnu Al-Qayyim ketika ditanya tentang Ahlussunnah beliau berkata, “Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlussunnah”. Malik bin Maglul lebih tegas lagi mengatakan, “Apabila ada seorang menamakan dirinya dengan bukan Islam dan As-Sunnah maka masukkanlah dia pada agama apapun yang kamu kehendaki. Maka Maimun bin Mahran menasihatkan untuk jangan sekali-kali menamakan dirinya dengan nama selain Islam “.

Referensi:

  1. Muzilul Ilbas fi al-Ihkam ‘ala an-Naas, editor Syaikh Sa’d bin Shabir Abduh.
  2. Ta’rif al-Khalaf bi Manhaj al-Salaf, DR. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan
  3. Al-Minhaj baina al-Ishalah wa al-Tagrib, DR. Muhammad bin Shalih Ali Jan

Bagian II

Manhaj Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah

Ahlussunnah adalah jama’ah yang dimaksud oleh Rasulullah e dalam sabdanya,”Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tetap membela al-haq, mereka senantiasa unggul, yang menghina dan menentang mereka tidak akan mampu membahayakan mereka hingga datang keputusan Allah (Tabaraka wa Ta’la), sedang mereka tetap dalam keadaan yang demikian”.

Ahlussunnah adalah al-firqotun najiyah, yang pada masa Rasulullah e mereka adalah umat yang satu sebagaimana firman Allah I ,”Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku (Allah) adalah Rab kalian, maka beribadahlah kepada-Ku”.

Orang Yahudi dan munafiqun berusaha memecah belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah, namun belum pernah berhasil, sebagaimana firman Allah ,

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya) : (pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (para sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada kekafiran”.

Namun Rasulullah e memberitahukan akan terjadi perpecahan di kalangan umat Islam sebagaimana sabda beliau,” Sesunguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-Ku dan sunnah Khulafaa’rasiddin yang mendapat petunjuk setelah Aku”.

Dan sabda beliau e,”Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah ..? ; beliau menjawab : yaitu barang-siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini”.

Setelah kita mengetahui bahwa kelompok ini adalah golongan yang selamat dari kesesatan, maka kita perlu mengetahui nama-nama dan ciri-cirinya agar kita dapat mengikutinya. Di antara nama-namanya adalah : Al-Firqotun Najiyah (golongan yang selamat), Ath-Thooifatul Manshuroh (golongan yang ditolong), dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang maksudnya adalah sebagai berikut:

Kelompok ini adalah yang selamat dari api neraka sebagaimana sabda Nabi e,” Seluruhnya di atas neraka kecuali satu (Maksudnya yang tidak masuk ke dalam neraka adalah satu).

Kelompok yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan apa-apa yang dipegang oleh As-Saabiqunal Awwalun (para pendahulu) dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Rasulullah bersabda,”Mereka itu adalah siapa-siapa yang berjalan diatas apa-apa yang aku dan sahabatku lakukan hari ini”.

Mereka itu bisa dibedakan dari kelompok lainnya pada dua hal penting;

pertama, berpegang teguhnya mereka terhadap As-Sunnah sehingga mereka di sebut sebagai pemilik sunnah (Ahlus Sunnah). Berbeda dengan kelompok-kelompok lain yang berpegang pada pendapat, hawa nafsunya sehingga dinisbahkan kepadanya seperti Al-Qadariyah dan Al-Murji’ah. Atau dinisbatkan kepada para imam-nya seperti Al-Jahmiyah, atau dinisbatkan pada pekerjaan-pekerjaannya yang kotor seperti Ar-Rafidhah dan Al-Khawarij.

Kedua, mereka adalah Ahlul Jama’ah karena mereka bersepakat untuk berpegang teguh dengan Al-Haq dan jauhnya mereka dari perpecahan.

Mereka adalah golongan yang ditolong Allah sampai hari kiamat. Karena gigihnya dalam menolong agama Allah , sebagaimana firman-Nya,

Jika kamu menolong Allah niscaya Allah akan menolong mereka”.

Rasulullah e bersabda, “Tidak ada yang menghina dan menentang mereka itu akan mampu membahayakan mereka sampai datang keputusan Allah sedang mereka itu tetap dalam keadaan demikian“.

Di antara prinsip dan manhaj Ahlussunnah wal jamaah adalah sebagai berikut:

Prinsip Pertama: Beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan Taqdir-Nya.

Beriman kepada Allah I artinya meyakini Rububiyyah Allah, uluhiyyah-Nya dan Asma wa –Sifat-Nya. Allah I berfirman,

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Juga firman Allah I,

Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdo’alah kamu dengannya”.

Beriman kepada Para Malaikat-Nya yakni membenarkan adanya para malaikat dan mereka adalah mahluk mahluk Allah yang diciptakan dari cahaya. Mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan perintah Allah di dunia. Allah I berfirman,”Bahkan malaikat-malaikat itu adalah mahluk yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dalam perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya”.

Iman kepada Kitab-kitab-Nya Yakni membenarkan adanya kitab Allah dan segala kandungannya berupa hidayah (petunjuk) dan ia diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Dan yang paling agung diantara sekian kitab tersebut adalah Al-Qur’an, karena ia sendiri merupakan mukjizat dari Allah. Allah berfirman,

Katakanlah (Hai Muhammad) : ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walaupun sesama mereka saling bahu membahu”.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengimani Al-Qur’an kalam (firman) Allah, bukan makhluq baik huruf maupun artinya. Berbeda dengan pendapat Jahmiyah dan Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an makhluk baik huruf maupun maknanya. Juga berbeda dengan Asyaa’irah yang mengatakan kalam (firman) Allah hanyalah artinya, sedangkan huruf-hurufnya adalah makhluk. Kedua pendapat tersebut bathil berdasarkan firman Allah ,

Dan jika ada seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar KALAM ALLAH (Al-Qur’an)”.

Iman Kepada Para Rasul yakni membenarkan semua rasul-rasul baik yang disebutkan namanya oleh Allah maupun yang tidak. Dan penutup para nabi adalah nabi Muhammad , tidak ada nabi sesudahnya. Termasuk beriman kepada para rasul adalah tidak menyepelekan mereka dan tidak berlebih-lebihan terhadap mereka seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nashara, Allah I berfirman,

Dan orang-orang Yahudi berkata : ‘Uzair itu anak Allah ; dan orang-orang Nasharani berkata :’Isa Al-Masih itu anak Allah…”.

Sebaliknya orang-orang sufi dan ahli filsafat telah menghina para rasul dan lebih mengutamakan para pemimpin mereka, sedang kaum penyembah berhala dan atheis telah kafir kepada seluruh rasul tersebut. tetapi Ahlussunah tidak membeda-bedakan antara semua Rasul, sebagaimana firman Allah ,

Kami tidak membeda-bedakan satu diantara Rasul-rasul-Nya ….”.

Iman Kepada Hari Akhirat yakni membenarkan semua yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang pristiwa setelah kematian seperti adzab dan ni’mat kubur, hari kebangkitan dari kubur, hari berkumpulnya manusia di padang mahsyar, hisab (perhitungan), mizan (ditimbangnya) segala perbuatan dan pemberian buku catatan amal dengan tangan kanan atau kiri, jembatan (sirat), serta Surga dan Neraka. Keimanan yang membuat bersiap sedia dengan amalan-amalan sholeh dan meninggalkan amalan jelek dan serta bertaubat dari dosa. Berbeda dengan orang-orang musyrik dan dahriyyun yang mengingkari adanya hari kiamat, atau orang Yahudi dan Nashara yang tidak mengimaninya dengan benar, Allah berfirman,

Dan mereka (Yahudi dan Nashara) berkata Sekali-kali tidaklah masuk Surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nashara. Demikianlah angan-angan mereka ……”.

Juga firman Allah I,

Dan mereka berkata : Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali hanya dalam beberapa hari saja”..

Iman kepada taqdir maksudnya meyakini bahwasanya Allah mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, menulisnya dalam Lauhul mahfudz. Segala sesuatu yang terjadi berdasarkan telah dikehendaki dan diciptakan oleh Allah . Allah mencintai keta’atan dan membenci kemaksiatan. Manusia mempunyai kekuasaan, kehendak dan kemampuan memilih pekerjaan yang mengantar mereka pada keta’atan atau kemaksiatan, tetapi semua itu mengikuti kemauan dan kehendak Allah. Berbeda dengan Jabariyah yang mengatakan manusia terpaksa dengan pekerjaan-pekerjaannya tidak memiliki pilihan dan kemampuan. Sebaliknya Qodariyah mengatakan hamba itu memiliki kemauan yang berdiri sendiri dan dialah yang menciptkan pekerjaannya. Kemauan dan kehendaknya terlepas dari kemauan dan kehendak Allah. Allah membantah kedua pendapat di atas dengan firman-Nya,

Dan kamu tidak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabila Allah menghendakinya”.

Prinsip Kedua, iman itu perkataan, perbuatan dan keyakinan yang bisa bertambah dengan keta’atan dan berkurang dengan kema’siatan.

Iman bukan hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan sebab itu merupakan keimanan kaum munafiq. Bukan pula sekedar ma’rifah (mengetahui) dan meyakini tanpa ikrar dan amal sebab itu merupakan keimanan orang-orang kafir yang menolak kebenaran. Allah berfirman,

Dan mereka mengingkarinya karena kedzoliman dan kesombongan (mereka), padahal hati-hati mereka meyakini kebenarannya, maka lihatlah kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan itu”.

Iman juga bukan sekedar keyakinan dalam hati atau perkataan tanpa perbuatan karena yang demikian adalah keimanan Murji’ah. Allah seringkali menyebut amal perbuatan termasuk iman sebagaimana firman-Nya,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang apabila ia disebut nama Allah tergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya dan kepada Allahlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan apa-apa yang telah dikaruniakan kepada mereka. Merekalah orang-orang mu’min yang sebenarnya …”

Juga firman Allah ,

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian”

Prinsip Ketiga: Tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya.

Adapun perbuatan dosa besar selain syirik dan tidak ada dalil yang menghukumi pelakunya kafir. Misalnya meninggalkan shalat karena malas, maka pelakunya tidak dihukumi kafir akan tetapi dihukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila dia mati sedang dia belum bertaubat maka dia berada dalam kehendak Allah. Jika Allah berkehendak Dia akan mengampuninya, atau menghukumnya namun tidak kekal di neraka, sebagaimana firman Allah ,

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam hal ini berada di tengah-tengah antara Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar walau bukan termasuk syirik dan Murji’ah yang mengatakan si pelaku dosa besar sebagai mu’min sempurna imannya. Mereka mengatakan dosa dan ketaatan tidak berpengaruh pada iman.

Prinsip Keempat: Wajib ta’at kepada pemimpin kaum muslimin selama tidak memerintahkan untuk kema’shiyatan.

Apabila mereka memerintahkan kepada kemaksiatan maka dilarang menta’atinya namun tetap wajib ta’at dalam kebenaran yang lainnya, Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul serta para pemimpin diantara kalian …”

Diriwayatkan dari Irbadh bin Sariyyah, Rasulullah e bersabda,”Dan aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian seorang hamba”.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menentang seorang amir (pemimpin) yang muslim itu merupakan ma’shiyat kepada Rasulullah e, sebagaimana sabdanya,”Barangsiapa yang ta’at kepada amir (yang muslim) maka dia ta’at kepadaku dan barangsiapa yang ma’shiyat kepada amir maka dia ma’shiyat kepadaku”.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga memandang bolehnya shalat dan berjihad di belakang para pemimpin yang zalim dan menasehati serta medo’akan mereka untuk kebaikan dan keistiqomahan.

Prinsip Kelima: Haramnya memberontak terhadap pemimpin kaum muslimin apabila mereka melakukan hal-hal yang menyimpang, selama hal tersebut tidak termasuk amalan kufur.

Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah tentang wajibnya ta’at kepada mereka dalam hal-hal yang bukan ma’shiyat dan selama belum tampak pada mereka kekafiran yang jelas. Berbeda dengan Mu’tazilah yang mewajibkan keluar dari pemimpin yang melakukan dosa besar walaupun belum termasuk amalan kufur dan mereka memandang hal tersebut sebagai amar ma’ruf nahi munkar. Padahal sebenarnya tindakan mereka itu termasuk kemunkaran yang besar karena menimbulkan bahaya yang besar bagi umat.

Prinsip Keenam: Tidak mencela dan membenci para sahabat Rasulullah.

Hal ini telah dicontohkan oleh sahabat Muhajirin dan Anshar, sebagaimana firman Allah I, ”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan : Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-suadara kami yang telah mendahului kami dalam iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian kepada orang-orang yang beriman : Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

Rasulullah e bersabda,”Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku ditangan-Nya, kalau seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan mencapai segenggam kebaikan salah seorang diantara mereka tidak juga setengahnya”.

Ahlus Sunnah memandang bahwa khalifah setelah Rasulullah secara berurutan adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhumajma’in. Barangsiapa yang mencela salah satu di antara mereka, maka dia lebih sesat daripada keledai karena bertentangan dengan nash dan ijma atas kekhalifahan mereka .Berbeda dengan sikap ahlul bid’ah dari kalangan Rafidhoh maupun Khawarij yang mencela dan meremehkan keutamaan para sahabat.

Prinsip Ketujuh: Mencintai Ahlul bait (Keluarga) Rasulullah e.

Hal ini sesuai dengan wasiat Rasul dengan sabdanya,”Sesungguhnya aku mengingatkan kalian dengan ahli baitku”.

Termasuk Ahlul bait adalah keluarga Rasulullah yang beriman dan juga istri-istrinya yang menjadi ibu kaum mu’minin Radhiyallahu ‘anhuma wa ardhaahuma, yang telah disucikan oleh Allah , sebagaimana firman-Nya,

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”.

Prinsip Kedelapan: Membenarkan adanya karomah para wali Allah.

Karomah yaitu apa-apa yang Allah perlihatkan melalui sebagian mereka, berupa sesuatu yang luar biasa sebagai penghormatan kepada mereka sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berbeda dengan Muktazilah dan Jahamiyah yang mengingkari adanya karomah. pada hakikatnya mereka mengingkari sesuatu yang diketahuinya.

Namun sebagian orang pada zaman sekarang tersesat dalam masalah karomah, mereka berlebih-lebihan, sehingga memasukkan apa-apa yang sebenarnya bukan termasuk karomah seperti jampi-jampi, pekerjaan para ahli sihir, syetan-syetan dan para pendusta. Perbedaan karomah dan kejadian luar biasa lainnya adalah karomah merupakan kejadian luar biasa yang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya yang sholeh dan bersumber dari Allah semata. Sedangkan sihir adalah kejadian yang luar biasa yang diperlihatkan para tukang sihir dan orang-orang kafir dengan maksud untuk menyesatkan manusia dan mengeruk harta-harta mereka dan bersumber pada kekafiran dan kemaksiatan.

Prinsip Kesembilan: Dalam berdalil selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah e baik secara lahir maupun bathin sesuai dengan pemahaman Salafussalih.

Hal ini sesuai dengan wasiat Rasulullah e,”Berepegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyid-iin yang mendapat petunjuk”.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mendahulukan perkataan siapapun terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah. Oleh karena itu mereka dinamakan Ahlul Kitab Was Sunnah. Setelah itu mereka mengambil apa-apa yang telah disepakati ulama umat ini. Segala hal yang diperselisihkan selalu dikembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, sebagaimana firman Allah ,

Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari akhir, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya”.

Ahlus Sunnah tidak meyakini adanya kema’shuman seseorang selain Rasulullah dan mereka tidak berta’ashub pada suatu pendapat sampai pendapat tersebut disesuaikan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid itu bisa salah dan benar dalam ijtihadnya. Mereka tidak boleh berijtihad sembarangan kecuali siapa yang telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul ‘ilmi. Perbedaan-perbedaan diantara mereka dalam masalah ijtihad tidak boleh menimbulkan permusuhan dan saling memutuskan hubungan diantara mereka, sebagaimana dilakukan orang-orang yang ta’ashub dan ahlul bid’ah. Mereka tetap metolerir perbedaan yang layak (wajar), dan tetap saling mencintai satu sama lain. Sebagian mereka tetap shalat di belakang yang lain betapapun perbedaan masalah far’i (cabang) diantara mereka. Sedang ahlul bid’ah saling memusuhi, mengkafirkan dan menghukumi sesat kepada setiap orang yang menyimpang dari golongan mereka.

Prinsip kesepuluh: Prinsip-prinsip di atas menjadikan mereka senantiasa berakhlak mulia sebagai pelengkap aqidah yang diyakininya.

Diantara sifat-sifat mulia tersebut adalah mereka beramar ma’ruf dan nahi mungkar sebagaimana firman Allah I,” Jadilah kalian umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, beramar ma’ruf dan nahi munkar dan kalian beriman kepada Allah”.

Rasulullah e bersabda,”Barangsiapa diantara kamu menyaksikan suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, apabila tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itulah selemah-lemah iman”.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tetap menjaga tegaknya syi’ar Islam dengan menegakkan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah sebagai pembeda terhadap ahlul bid’ah dan orang-orang munafik yang tidak mendirikan shalat Jum’at maupun shalat Jama’ah.

Mereka juga menegakkan nasehat bagi setiap muslim dan bekerja sama serta tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa sebagaimana sabda Nabi,” Agama itu nasehat, kami bertanya : untuk siapa .? Beliau menjawab : Untuk Allah dan Rasul-Nya dan para imam kaum muslimin serta kaum muslimin pada umumnya”.

Mereka juga tegar dalam menghadapi ujian-ujian dan sabar ketika mendapat cobaan-cobaan dan bersyukur ketika mendapatkan keni’matan dan menerimanya dengan ketentuan Allah.

Singkatnya mereka selalu berahlak mulia dan berbuat baik kepada kedua orang tua, menyambung tali persaudaraan, berlaku baik dengan tetangga, dan mereka senantiasa melarang dari sikap bangga, sombong, dzolim (aniaya) sebagaimana firman Allah ,

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib, kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Rasulullah e bersabda,” Sesempurna-sempurna iman seorang mu’min adalah yang baik ahlaknya”.

Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita semua menjadi bagian dari mereka. shalawat serta salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad e, keluarganya beserta shabat-sahabatnya. Aamin.

Disarikan dari buku “Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Terj. Abu Aasia, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh.

Bagian III

Manhaj Ibadah Ahlussunnah wal Jamaah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:

أهل السنة يعبد الله، لله، بالله, وفي الله

Ahlussunnah beribadah kepada Allah, karena Allah, dengan pertolongan Allah dan dalam agama Allah ”.

Ahlussunnah ya’budullah (beribadah kepada Allah) lillah maksudnya adalah ikhlas kepada Allah semata untuk mencari ridha-Nya. Mereka tidak beribadah kepada Allah supaya dilihat, dipuji orang dan agar digelari seorang ahli ibadah. Dari Amirul Mu’minin Abu Hafsh ‘Umar bin Khothob berkata,” Saya mendengar Rosululloh r bersabda,” Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya dan Sesungguhnya bagi setiap orang tergantung dari apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrah kepada dunia yang dia cari atau wanita yang dia ingin nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.”

Adapun billah maksudnya meminta tolong kepada Allah . Seorang tidak akan mungkin bisa beribadah kepada Allah dengan sendirinya, tetapi ia meminta pertolongan kepada Allah sebagaimana firman Allah :

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan

Adapun fillah yaitu pada agama Allah yang disyariatkan melalui Rasulullah tanpa ditambah dan dikurangi. Mereka tidak keluar dari agama Rasulullah, mereka bersihkan ibadah mereka dari kesyirikan dan bid’ah sebagaimana firman Allah :

Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Ibadah mereka bukan didorong oleh nafsu dan akalnya, akal yang sehat tidak akan membolehkan seorang mukmin untuk keluar dari syariat Allah. Karena berpegang pada syariat Allah termasuk bagian dari akal yang sehat. Itulah sebabnya Allah menyebut orang–orang yang mendustakan Rasulullah sebagai orang yang tidak berakal, sebagaimana firman-Nya:

Tetapi kebanyakan mereka tidak berakal

Seandainya kita beribadah kepada Allah menurut nafsu kita, niscaya akan terjadi perpecahan dan pengelompokan yang setiap orang menganggap baik pendapatnya untuk beribadah kepada Allah. lihatlah mereka yang beribadah kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang bid’ah yang tidak disyariatkan oleh Allah, bagaimana antar mereka saling membenci dan saling menyalahkan. Mereka mengkafirkan orang lain dengan sesuatu yang sebenarnya mereka tidak kafir tetapi hawa nafsunya yang membutakan mereka.

Seandainya kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat Allah , bukan dengan hawa nafsu niscaya kita akan menjadi satu umat. Karena syariat Allah adalah petunjuk bukan hawa kita. sebagian ahli bid’ah yang melakukan bid’ah dalam masalah aqidah atau amal, berdalil dengan sabda Nabi:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَي يَوْمِ القِيَامَةِ

Barangsiapa yang membuat teladan yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat

Kita mengatakan kepadanya,” Apakah yang anda anggap baik dalam bid’ah ini tidak diketahui oleh Rasulullah?. Atau beliau mengetahuinya tetapi menyembunyikannya sehingga tidak ada kalangan salaf yang mengetahuinya, kemudian beliau simpan untuk anda?.

Apabila mereka mengatakan,”Sesungguhnya Rasulullah tidak mengetahui kebaikan bid’ah ini sehingga beliau tidak ajarkan”. Kita menjawab,”Anda telah menuduh Rasulullah dengan sangat keji yaitu bodoh terhadap agama Allah dan syariat-Nya”. Bila mereka mengatakan,” Rasulullah mengetahuinya, tapi tidak menyampaikannya kepada orang lain”. Ini tuduhan yang lebih keji, anda menganggap Rasulullah seorang yang bergelar “al-Amin” (amanah), seorang pengkhianat dan tidak mengajarkan pengetahuannya.

Bisa juga mereka berkata,” Rasulullah mengetahuinya, mengajarkannya tapi belum sampai kepada kita”. Kita mengatakan kepada mereka bahwa anda telah menentang firman Allah yang menyebutkan:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya kami menurunkan Al-Dzikr dan Kami yang akan menjaganya” .

Apabila syariat Allah hilang sehingga tidak sampai kepada kita, artinya Allah tidak menjaga syariat-Nya, bahkan kurang dalam menjaganya sehingga hilang sebagian dari yang ada dalam Al-Qur’an.

Kesimpulannya, setiap orang yang melakukan bid’ah dalam masalah agamanya baik dalam aqidah atau ibadah berupa ucapan maupun perbuatan, maka dia adalah orang yang sesat, sebagaimana sabda Nabi:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Setiap bid’ah adalah sesat

Hadits ini umum mencakup setiap bidah dalam masalah agama, ia sesat dan tidak ada kebaikan di dalamnya, Allah berfirman:

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)”.

Adapun hadits Rasulullah e “Barangsiapa yang membuat teladan dalam Islam” tidak menjelaskan tentang bid’ah, karena semua yang bukan ajaran Rasulullah tidak termasuk dari Islam. Itulah sebabnya ditambahkan dengan “sunnah yang baik” karena ia termasuk yang diakui oleh Islam.

Sababul Wurud (Sebab munculnya) hadits tersebut menunjukkan bahwa maksudnya adalah segera untuk mengamalkan sunnah. Sekelompok orang faqir datang kepada Rasulullah, kemudian beliau menganjurkan orang untuk bersedekah kepada mereka. seorang dari Anshar datang dengan membawa sekeranjang korma kemudian memberikan kepada orang-orang tersebut. Dan orang-orang mengikutinya. Maka Rasulullah bersabda dengan hadits di atas.

Dengan demikian maksudnya bukan membuat syariat baru, tetapi mengamalkannya, menjadi teladan dalam mengamalkannya di hadapa orang sehingga ia menjadi teladan yang baik dan mendapatkan pahalanya sebagaimana pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Sebagian ahli bidah berhujjah dengan kaidah itu sebuah sarana untuk kebaikan seperti mengumpulkan al-Qur’an, mendirikan sekolah dll, yang hanya sebagai sarana bukan tujuan.

Ada perbedaan antara sesuatu yang menjadi sarana untuk tujuan baik yang ditetapkan oleh syariat, tetapi tidak bisa terwujud kecuali dengan melakukan sarana tersebut, dan sarana ini berkembang seiring perkembangan zaman, misalnya firman Allah :

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”.

Persiapan kekuatan di zaman Rasulullah berbeda dengan persiapan kekuatan di zaman kita. Maka bila kita melakukan suatu perbuatan yang merupakan persiapan kekuatan, maka ia bid’ah sarana bukan gayah (tujuan) yang seseorang beribadah kepada Allah dengannya. Kaidah yang sudah disepakati menyebutkan,” Anna Lil Wasaa’il Ahkaam al-Maqashid”, (Sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya). Semua yang dilakukan adalah saran untuk tujuan yang terpuji.

Mengumpulkan Al-Qur’an dan mencetaknya merupakan sarana untuk tujuan yang disyariatkan. Hendaknya dibedakan antara sarana dan tujuan. Sesuatu yang sendirinya merupakan sebuah tujuan, maka ia telah disyariatkan oleh Allah dan diwahyukan kepada Rasulullah sebagaimana firman Allah :

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu”,

Seandainya amalan bid’ah merupakan penyempurna syariat, niscaya sudah disyariatkan, dijelaskan dan disampaikan dan dijaga. Ia bukan menyempurnakan syariat bahkan ia menguranginya.

Sebagian orang mengatakan bahwa dalam perbuatan bidah tersebut bisa membersihkan hati, semangat beragama dan lainnya. kita katakan bahwa Allah telah memberitahu kita bahwa syaitan bersumpah:

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”.

Syaitan memperindah di hati manusia untuk memalingkan mereka dari ibadah kepada Allah . Rasulullah telah mengingatkan bahwa syaitan masuk ke dalam diri manusia seperti darah yang mengalir. Dan ini selaras dengan firman Allah I :

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah

Allah menjadikan syaitan berkuasa pada orang-orang yang berpaling dari Allah dan menyekutukan-Nya. Dan setiap orang yang menjadi pengikut bidah di dalam agama Allah , maka ia telah menyekutukan Allah dan menjadikan orang yang diikuti ini sebagai sekutu Allah dalam masalah hukum. Padahal hukum syar’i itu hanya milik Allah sebagaimana firman-Nya:

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”, .

Ketahuilah!, semoga Allah merahmatimu, bahwa tidak ada jalan yang bisa mengantarkan kita kepada Allah kecuali dengan jalan yang telah ditentukan oleh Allah lewat Rasul-Nya. “Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi”, seandainya seorang raja menentukan sebuah pintu untuk masuk menemuinya dan berkata,”Barangsiapa yang ingin menemui saya, maka hendaknya masuk lewat pintu ini”. Bagaimana pendapat anda bila ada orang yang ingin menemui raja lewat pintu lain, apakah ia bisa bertemu dengannya?.

Allah telah menentukan jalan khusus untuk menemui-Nya yaitu jalannya Rasulullah, yang tidak mungkin seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan kecuali dengan menempuh jalan Rasulullah.

Penghormatan kepada Rasulullah dan termasuk adab kepada beliau adalah mengerjakan apa yang beliau kerjakan dan meninggalkan apa yang beliau tinggalkan. Kita tidak mendahului beliau dalam agamanya, berkata dalam agamanya yang beliau tidak pernah katakan da mengadakan suatu ibadah yang tidak pernah beliau syariatkan.

Apakah termasuk mencintai Rasulullah seorang yang mengada-ada dalam masalah agama, padahal beliau bersabda,”Setiap bid’ah itu sesat”. Juga beliau bersabda,” Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama maka ia tertolak”. Apakah ini merupakan kecintaan kepada Rasulullah? Dengan membuat syariat dalam agama Allah sesutu yang tidak pernah disyariatkan?. Allah I berfirman:

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.

Diterjemahkan dari “Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah-Thariqatu Ahlussunah fi Ibadatillah” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Bagian IV

Manhaj Akhlak Ahlussunnah wal Jamaah

Allah Mengutus Muhammad sebagai pembawa hidayah agama yang haq dan Penyempurna Akhlak. Allah I berfirman,

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang-orang musyrik benci“.

Allah mengutus Muhammad kepada jin dan manusia, seluruh penduduk dunia sebagai rahmatan (karunia) dan imaman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Mengajarkan dan memahamkan manusia tentang agama-Nya, menjelaskan penyebab keselamatan dan kebinasaan hidup di dunia dan di akhirat, Allah mengutusnya dengan Dienul Islam. Beliau membawa kabar yang benar, ilmu yang bermanfaat, syari’at yang lurus serta hukum-hukum yang adil. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada seluruh kebaikan dan mencegah kejahatan, menyeru kepada akhlak yang mulia dan pebuatan yang baik serta mencegah rendahnya akhlak dan buruknya amal perbuatan. Allah berfirman,

Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan“.

Juga firman Allah, ”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam“. (Al-Anbiya’ : 107).

Akhlak yang paling agung adalah beribadah kepada Allah , Allah berfirman,

Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa“.

Juga firman Allah ,

Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu“.

Allah berfirman,

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya …

Kemudian berakhlak kepada Rasulullah dengan mengikuti sunnah beliau, Allah berfirman,

Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa“.

Kita berdoa kepada Allah untuk ditunjukkan “Shiratal Mustaqim”, Allah berfirman,

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat“.

Pengertian Ash-Shirath Al-Mustaqim adalah Dienullah, yaitu Al-Islam, Al-Iman, ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Ia adalah jalannya orang-orang yang mendapat nikmat dari kalangan ahlul ilmi dan amal, mereka adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik serta pendahulu dari kalangan Rasul beserta pengikutnya. sebagaimana firman Allah ,

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi, para shidiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya“.

Wajib bagi setiap muslim untuk mendalami Kitabullah, dan mempelajari Sunnah-sunnah Rasul-Nya serta istiqamah padanya. Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tercantum penjelasan tentang perintah-perintah dan larangan yang dibawa dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam. Dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang akhlak mulia yang dipuji oleh Allah sebagai akhlak mukminin dan mukminat. Di antara firman Allah yang memuat akhlak mulia adalah surat Al-Furqan: 63-77. Allah befirman:

Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”.

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.

Dan orang-orang yang berkata:”Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal“.

Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)

(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Dan orang-orang yang berkata:

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

Allah juga berfirman,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”,

Dan di antara akhlak yang ketiga adalah akhlak kepada diri sendiri, dengan memberikan hak-haknya seperti hak mata untuk tidur, badan untuk istirahat dan lainnya. juga menjauhkan badan dari hal-hal yang memudaratkan baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Agar badan mendapatkan ketenangan di dunia maka dengan menentramkan hati lewat dzikrullah, Allah berfirman,

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.

Dan keselamatan badan di akhirat dari azab Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan kesalahan.

Semua bentuk akhlak di atas terangkum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Jundub bin Junadah Rasulullah bersabda:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَاتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana saja berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan (bertaubat) niscaya kebaikan akan menghapuskan kejelekan. Dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik

Semoga Allah mengaruniai kita akhlak yang terpuji dan menghindarkan kita dari akhlak tercela, amin!.

Disarikan dari buku,” Akhlaqul Mukminn wal Mukminat, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, terj. “Akhlak Salaf, Mukminin & Mukminat, oleh Ihsan, (Solo: Pustaka At-Tibyan). (Abu Athiyah).

Bagian V

Manhaj Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah

Sesungguhnya berdakwah kepada Allah adalah jalan yang ditempuh Rasulullah e dan pengikut-pengikutnya, sebagaimana Allah I berfirman,

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Dakwah kepada Allah merupakan tugas utama para Rasul dan seluruh pengikutnya, untuk mengeluarkan manusia dari kekufuran menuju keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid dan dari Neraka menuju Surga. Dakwah tersebut ditopang dengan tiang-tiang yang didirikan diatas pondasi, jika salah satunya saja binasa maka dakwah tersebut tidaklah berjalan dengan benar serta tidak pernah membuahkan hasil yang diinginkan, meskipun dengan jerih payah yang amat sangat serta menghabiskan banyak waktu. Sebagaimana yang terjadi pada sebagian besar dakwah-dakwah modern masa kini yang tidak dilandasi dengan tiang-tiang dan juga tidak berdiri di atas pondasi tersebut. Adapun tiang-tiang yang menopang dakwah yang benar adalah seperti yang disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, ringkasnya sebagai berikut:

Pertama, mengetahui apa yang didakwahkan.

Maka seorang yang bodoh tidak layak menjadi da’i, Allah berfirman,

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. ( QS. Yusuf : 108 ).

“Bashirah” maksudnya adalah ilmu, karena seorang da’i akan menghadapi ulama yang sesat dan berbagai syubhat (kekaburan), mereka membantah agar kebatilan bisa mengalahkan kebenaran, Allah berfirman:

“…bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Nabi e bersabda kepada Mu’adz t: ” Kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab…”. Jika seorang da’i tidak berbekal ilmu yang dapat digunakan untuk menghadapi setiap syubhat, maka ia akan kalah di awal pertandingan atau terhenti di tengah jalan.

Kedua, Mengamalkan apa yang didakwahkan.

Seorang da’i menjadi teladan yang baik , tindakan sesuai dengan ucapannya sehingga tidak membuah celah bagi orang-orang untuk menghinanya, Allah berfirman tentang nabi-Nya Syu’aib yang berkata kepada kaumnya:

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan”.

Ketiga, Ikhlas

Dakwah yang dilakukan hendaknya betul-betul mengharap ridha Allah, bukan supaya dipuji orang atau agar diangkat menjadi pemimpin atau demi keinginan duniawi semata, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah tentang nabi-nabi-Nya, bahwasanya mereka mengatakan, “Aku tidak meminta kepadamu balasan”. Juga,” Aku tidak meminta kepadamu harta”.

Keempat, Memulai dari sesuatu yang terpenting

Hendaknya pertama kali yang didakwahkan adalah masalah akidah dengan memerintahkan beribadah kepada Allah semata dan melarang syirik kemudian memerintahkan untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan sebagaimana jalan yang dilakukan oleh semua rasul, Allah berfirman

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.

Juga firman Allah: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Ketika Nabi e mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berkata kepadanya:

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الكِتاَبِ , فَلْيَكًنْ أَوَّلُ مَاتَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَا الله فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاعلَمُهُم أَنَّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَاوَاتِ فِي اليَوْمِ وَ اللَيْلَةِ ….. الحديث

Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab maka jadikanlah hal yang utama engkau seru kepada mereka adalah syahadah ( persaksian ) bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan jika mereka menjawab seruanmu maka katakan pada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu di dalam setiap harinya……...” Hadits.

Manhaj Rasulullah e dalam berdakwah menjadi teladan yang baik dan yang paling sempurna ketika beliau tinggal di Mekah selama 13 tahun mengajak manusia kepada tauhid dan melarang mereka berbuat kesyirikan sebelum beliau memerintahkan mereka shalat, zakat, puasa, dan haji dan sebelum beliau melarang mereka dari perbuatan riba, zina, mencuri, membunuh jiwa tanpa haq.

Kelima, Bersabar dalam menghadapi rintangan di jalan dakwah

Jalan dakwah tidaklah ditaburi bunga-bunga melainkan penuh dengan suatu yang tidak menyenangkan dan penuh dengan bahaya, sebagaimana yang terjadi pada para Nabi dan Rasul sebelumnya. Allah berfirman,

Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.”

Dan Allah berfirman :

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.”

Keenam, Berakhlak yang baik dan bijaksana dalam berdakwah

Akhlak mulia merupakan sebab utama diterimanya dakwah sebagaimana Allah memerintahkan dua Nabi-Nya yang mulia Musa dan Harun u agar mereka bijaksana dalam menghadapi orang yang paling kafir di muka bumi ini yaitu Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan, Allah berfirman,

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Firman Allah juga pada Musa u :

“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”

Allah juga berfirman, tentang sikap yang harus dimiliki oleh Nabi kita Muhammad e:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

Allah juga berfirman : “Sesungguhnya kamu mempunyai akhlak yang mulia”. Allah juga berfirman :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Ketujuh, Seorang da’i harus memiliki rasa optimis

Seorang dai tidak mudah putus asa dalam dakwahnya atau mengharapkah hidayah atas kaumnya, seraya selalu mengharap pertolongan dan perlindugan dari Allah, meskipun waktu yang telah ditempuhnya sangatlah lama, karena pada rasul-rasul Allah terdapat contoh yang demikian itu.

Misalnya nabi Nuh u yang mendakwahi kaumnya selama 950 tahun. Dan demikian pula Rasulullah e ketika mendapat gangguan orang-orang kafir yang semakin berat, beliau didatangi oleh malaikat gunung yang menawarkan untuk melempar mereka dengan bebatuan. Rasulullah berkata: ” Jangan , tetapi aku akan bersikap perlahan-lahan menghadapi mereka semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka seorang keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatupun“.

Jika seorang da’i telah kehilangan sifat optimisnya, maka ia akan berhenti di tengah jalan dan mengalami kegagalan dalam menjalankan tugasnya.

Dan setiap dakwah yang tidak di bangun di atas manhaj para rasul ini, maka dakwah tersebut akan gagal, sehingga hanya melelahkan dan tidak ada faedahnya. Seperti jama’ah-jama’ah dakwah yang ada sekarang ini yang telah salah memilih manhaj dakwah dengan menyelisihi manhaj dakwah para Rasul. Mereka lalai dalam mendakwahkan akidah, sehingga mereka lebih mementingkan masalah-masalah yang sifatnya cabang (sekunder).

Sebagian jama’ah-jama’ah tersebut menyeru pada perbaikan hukum dan politik dan menuntut agar dilaksanakan hukum pidana dan diterapkannya syari’at Islam dalam bentuk undang-undang di tengah-tengah masyarakat. Ini merupakan hal yang penting namun bukan yang terpenting. Bagaimana mereka menuntut untuk diterapkan hukum Allah terhadap pencuri, pezina, sebelum ia meminta untuk diterapkannya hukum Allah terhadap pelaku kemusyrikkan?. Bagaimana ia meminta diterapkan hukum Allah terhadap pencuri sebelum ia meminta diterapkannya hukum Allah terhadap orang-orang yang menyembah berhala dan kuburan dan orang-orang yang mengingkari Nama-Nama dan sifat-sifat Allah ?.

Bukankah dosa kemusyrikan lebih besar dari dosa orang yang berzina, meminum khamer dan mencuri?!! Sesungguhnya dosa-dosa ini merupakan yang dilakukan terhadap hak mahluk ( hamba ). Sementara kesyirikkan dan menolak akan nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan kejahatan terhadap hak Khaliq ( Pencipta ) I, Sedangkan hak Pencipta lebih diutamakan daripada hak mahluk-mahlukNya .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,” Dosa-dosa ini apabila dilakukan dengan benarnya tauhid lebih baik daripada rusaknya tauhid diiringi dengan perbuatan dosa-dosa ini”.

Hal ini juga sesuai dengan firman Allah,

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.

Sebagian jama’ah dakwah yang lainnya tidak menaruh perhatian terhadap masalah akidah, melainkan hanya mementingkan dakwah dengan membiasakan dzikir-dzikir dengan metode sufi dan menekankan akan pentingnya khuruj ( baik di luar atau di dalam negeri ). Yang penting bagi mereka adalah manusia mau bergabung bersamanya tanpa memandang akidah mereka. Semua ini merupakan cara-cara bid’ah dengan memulai dakwahnya pada bagian terakhir dari apa yang didakwahkan oleh para rasul. Hal ini bagaikan mengobati sekujur tubuh yang terpenggal kepalanya, karena akidah itu bagaikan kepala dalam masalah agama.

Yang diharapkan dari jama’ah dakwah ini adalah memperbaiki pemahamannya dengan merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah agar mengetahui manhaj para rasul dalam berdakwah di jalan Allah . Karena sesungguhnya Allah telah memberikan kabar bahwa kekuasaan yang menjadi tujuan dakwah jama’ah-jama’ah tersebut tidak akan terwujud sebelum mereka memperbaiki akidah mereka yaitu menyembah Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Allah berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Mereka ingin mendirikan Daulah Islamiyah sebelum membersihkan negara mereka dari akidah-akidah berhala, dengan menyembah patung, orang yang telah meninggal dunia, meminta pada kuburan. Hal ini tidak berbeda dengan akidah orang-orang kafir jahiliyah terhadap Laata, ‘Uzza , Mannah dan lainnya. Sesungguhnya berhukum dengan syari’at Allah, menegakkan hukum pidana, mendirikan pemerintahan Islam, meninggalkan larangan-larangan dan mengerjakan suatu kewajiban-kewajiban merupakan hal yang menjadi pelengkap dan cabang Tauhid. Maka bagaimana memperhatikan yang cabang sedang yang pokok dilupakan?

Apa yang terjadi dengan jama’ah-jama’ah dakwah ketika menyelisihi manhaj para rasul dalam berdakwah terjadi karena mereka tidak mengetahui manhaj dakwah para Rasul. Seseorang yang tidak mengetahui akan hal tersebut tidaklah pantas menjadi seorang da’i, karena di antara syarat-syarat dakwah adalah mengetahui ilmunya, sebagaimana Firman Allah:

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Dan yang terpenting bagi seorang da’i adalah ilmu. Sehingga ada di antara mereka yang ditanya tentang pengertian Islam, pembatal-pembatalnya dan lainnya, tidak mampu bisa mereka jawab.

Setiap jama’ah dakwah juga membuat metode dakwah tersendir yang berbeda antara satu jamaah dengan jamaah yang lain. Inilah akibat dari menyelisihi manhaj dakwah Rasulullah e, karena manhaj para Rasul adalah satu tidak ada perbedaan di antara mereka, sebagaimana Firman Allah:

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata,

Maka siapa saja yang mengikuti jalannya Rasulullah e yang satu ini maka mereka tidak akan mungkin berselisih.

Mereka berselisih karena menyelisihi manhaj beliau, sebagaimana Firman Allah:

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”

Selama jama’ah-jama’ah dakwah yang bermacam-macam ini menyimpang maka ini akan membahayakan bagi Islam karena menyebabkan seseorang berpaling ketika akan masuk agama Islam dan hal tersebut bukanlah dari ajaran Islam, sebagaimana Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.”

Islam juga menyeru agar berkumpul di atas kebenaran, sebagaimana Firman Allah: “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”

Disarikan dari Pengantar” Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah fihil Hikmatu wal ‘Aql ” karya Prof. DR. Syaikh Rabi’ bin Hadi bin Umar Al-Madkhali, oleh Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.

Al-Jauhari, al-Shihah, 1/346

Al-Maidah:48

HR. Al-Darami no. 83

Yusuf : 108

Majmu’ Fatawa III/ 357

Lihat : Al-Lalika’i Syarhus Sunnah No. 51 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 8:1034

Talbisul Iblis oleh Ibnul Jauzi hal.16 dan lihat Al-Fashlu oleh Ibnu Hazm 2:107

Majmu’ Fatawa III/157

Majmu’ Fatawa III/157

HR.Muslim dalam kitab al-Iman

Shahih al-Jami’ oleh Al-Bani I/12 No. 3816

HR.Jama’ah

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya hal.15

Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr

Fathul Bari 13/259, dan Syarah Kitab Tauhoid ,Syekh Abdullah Al-Ghunaiman II/240

As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 120

Sunan ad-Darimi I/49

As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 133

al-Ibanah;I/206

As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 133

Syarah I’tiqad Ahlussunah, Al-lalika’iy I/65

As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 137

As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 137

Tartibul Madarik I/72

Madarijus sallikin III/174

Ad-Durarul Mansyur, As-Suyuthi II/63

As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal.137

HR. Al-Bukhari 4/3641, 7460; dan Muslim 13 /65-67 pada syarah Imam Nawawy

Al-Anbiyaa : 92

Ali Imran : 72

HR. Abu Dawud 5/4607, Tirmidzi 5/2676 Dia berkata hadits ini hasan shahih ; Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43

HR. Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43

Muhammad : 7

Al-Fatihah: 1-2

Al-A’raf : 180

Al-Anbiyaa : 26-27

Al-isra : 88

At-Taubah : 6

At-Taubah : 30

Al-Baqarah : 285

Al-Baqarah : 111

Al-Baqarah : 80

At-Takwir : 29

An-Naml : 14,) Baca juga Al-An’aam : 33 dan Al-Ankabut : 38 ).

Al-Anfaal : 2-4

Al-Baqarah : 143

An-Nisaa : 48

An-Nisaa : 59

HR. Bukhari 4/7137, Muslim 12 / 223 Syarah Nawawi

Al-Hasyr : 10

HR. Bukhari 3/3673, dan Muslim 16/ 92-93 Syarah Nawawy

HR. Muslim 15/180 Nawawy, Ahmad 4/366-367 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629

Al-Ahzab : 33

An-Nisaa : 59

Ali-Imran : 110

HR. Muslim 1/Juz 2 hal. 22-25 syarah Nawawy dari Abu Sa’id Al-Khudry

HR.Muslim 2/36-37, Abu Daud 5/49944, dan An-Nasaai 7/4197, Imam Ahmad 4/102 dari Tamiim Ad-Dary

An-Nisaa : 36

HR. Ahmad 13 No. 7396, Tirmidzi 3/1162, Abu Daud 5/4682, dan Al-Haitsamy dalam Mawarid No. 1311, 1926

HR. Bukhori dan Muslim

Al-Fatihah:5

Al-Bayyinah:5

Al-Ankabut: 63

HR.Muslim

Al-Hijr: 9

Yunus:32

Al-Anfaal: 60

Al-Maidah: 3

Al-A’raf:17

An-Nahl:99-100

Yusuf: 40

lihat; An-Nahl: 60

Ali Imron : 31

Ash-Shaff : 9

Saba’ : 28

Al-Baqarah : 21

An-Nisaa’ : 36

Al-Isra’ : 23

Al-An’am : 153

Al-Fatihah : 5 -7

An-Nisaa : 69

Al-Furqon:63

Al-Furqon:64

Al-Furqon:65

Al-Furqon:66

Al-Furqon:67

Al-Furqon:68

Al-Furqon:69

Al-Furqon:70

Al-Furqon:71

Al-Furqon:72

Al-Furqon:73

Al-Furqon:74

Al-Furqon:75

Al-Baqarah : 177

Al-Ra’du: 28

HR. Tirmidzi-Hasan Shahih

Yusuf : 108

An Nahl : 125

Huud : 88

An Nahl : 36

Al Anbiyaa’ : 25

Al An’am : 34

Thaaha : 44

An Nazi’aat : 17-18

Ali Imran : 159

An Nahl : 125

Istiqamah, 1/466

An-Nisa:48

An Nuur : 55

Yusuf : 108

Yusuf : 108

Al An’am : 153

Al An’am :159

Ali Imran : 103

Sumber : http://www.geocities.com/abu_amman/ManhajAhlusSunnah.htm

About tettaisla

orang biasa yang mencoba bergaul dengan orang-orang yang biasa melahirkan karya-karya luar biasa
This entry was posted in Relegi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s