Nuansa Bening dan Musikalitas

oh, tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat ….. di hadapanku
biasa saja …..

Saya kaget ketika mendengar suara putra bungsu saya yang duduk di bangku SMP kelas satu, Muhammad Farhan Daeng Nai Karaeng Bura’nea (karena panjangnya saya singkat Aa’), mendendangkan lirik lagu di atas. Bagaimana tidak terkesima, lirik itu penggalan lagu Nuansa Bening yang dibawakan oleh Keenan Nasution puluhan tahun yang lalu. Lagu itu pertama kali saya dengar sekitar akhir tahun 1978 (31 tahun yang lalu !), saat saya masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Anak saya tidak percaya kalau lagu itu lagu lawas sampai saya ceritakan semua yang sempat terekam oleh memori saya.
Rada Krishnan Nasution demikian nama pemberian orang tua Keenan, lahir pada tanggal 5 Juni 1952. Awalnya Keenan ngeband di Gipsy band sebagai drummer dan vokalis, di group ini terdapat juga almarhum Christian Rahadi atau yang lebih dikenal sebagai Chrisye (bass dan vokal). Group band gipsy sangatlah eksklusif (bukan sok gedongan, walaupun jenis musik mereka lebih banyak didengar oleh ”anak menteng”. Namun terlebih karena mereka keluar dari ’pakem’). Gipsy pernah menjadi homeband di Ramayan Restaurant yang berada di kawasan Manhattan New York City, Amerika Serikat.
Keenan melalui Gipsynya juga pernah berkolaborasi dengan Guruh Soekarno Putra pada tahun 1975 dengan personil Oding Nasution, Roni Harahap, Christian Rahadi dan Abadi Soesman, kolaborasi ini melahirkan album yang sangat monumental ”Guruh Gipsy” dan rilis pada akhir tahun 1976. Konsep musiknya adalah perpaduan antara musik tradisional Bali dengan rock. Pada era ini juga kita banyak mendengar lirik lagu yang mencampur-adukkan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sansekerta.
Tahun 1977 Keenan bersama Eros Djarot (Kini Ketua PNBKI – Parpol), Chrisye, Berlian Hutauruk,Yockie Soerjo Prajogo, Debby Nasution, dan Fariz RM berhasil menggebrak industri musik pop Indonesia dengan kehadiran album fenomenal “Badai Pasti Berlalu”.
Tahun 1978 Keenan mengajak Guruh Soekarno Putera, Junaedi Salat, Abadi Soesman, serta dua saudaranya Gauri Nasution dan Debby Nasution untuk merampungkan album solo perdananya bertajuk “Di Batas Angan-Angan”. Di album ini Keenan pun menyertakan Addie MS dan Fariz RM yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Album ini berhasil melejitkan dua hits yaitu “Nuansa Bening” dan “Zamrud Kahtulistiwa” yang ditulis Guruh Soekarno Putera. Pada saat yang bersamaan Chrisye pun meluncurkan album solo perdanya “Sabda Alam” yang juga didukung oleh Keenan, Yockie Soerjo Prajogo, Junaedi Salat dan Guruh Soekarno Putera.
Kisah di atas merupakan salah satu wajah musik Indonesia saat itu, masih ada wajah lain yang juga mempunyai penggemar tersendiri, ada A. Riyanto, Rinto Harahap, Charles Hutagalung, kelompok Panbers dan lain sebagainya. Pada masa itu kelompok Keenan dianggap sebagai musik yang sok sulit, sok orkestra, sok tinggi liriknya. Kelompok Rinto Harahap dibaptis sebagai musik tiga jurus (kalau main di C pastilah sebentar pindah ke G dan F atau main D pasti nada tingginya G kemudian A).
Selesai bercerita si Aa’ bertanya : ”kapan kita mulai dengar musik”. Ingatan saya kembali menerawang puluhan tahun yang lalu. Kala di rumah kakek saya ada sebuah statsiun radio amatir atau sering disingkat radam liar (zaman itu memang banyak, salah satunya yang eksis sampai sekarang, Barata FM, dulu namanya Baratha Yudha – radio ini paling kebal sweeping, maklum berlokasi di Jl. Rajawali dekat gereja HKBP yang nota bene adalah kompleks militer).
Radam liar milik oom saya ini sangat sederhana karena merupakan bahan percobaan atau praktik anak-anak STM Gunung Sari, anggotanya antara lain paman saya, Oom Kadir (kakak dari Yusuf Moebrey – pegawai TVRI Sulsel) dan ada beberapa orang lagi yang saya lupa-lupa ingat namanya. Karena sederhanya radam ini terkadang lebih banyak diisi oleh pembacaan ayat suci Al-quran atau celoteh sang penyiar yang tentu saja live, maklum mereka tidak punya tape untuk dipakai memutar lagu.
Di antara sekian banyak anak muda yang sering mangkal di rumah kakek saya, ada seorang bertubuh paling ”subur” yang sering saya panggil dengan sebutan Oom Nanggong. Oom inilah yang sering menjadi ”korban live” teman-temannya. Ia diminta bernyanyi sambil diiringi petikan gitar dan pukulan sendok pada sebuah cangkir. Saya masih ingat penggalan lirik lagu daerah Makassar yang sering dia bawakan : … alle sai dacing-dacing nu panai’ ri timbangang….. lagu ini karya komposer Makassar Abidin Syam (saya lupa judul lagunya). Saya penasaran kenapa cuma dia yang sering diminta menyanyi, rupanya dari sekian banyak anak muda, cuma dialah yang mempunyai musikalitas ditambah suara yang ”berat” tapi merdu, teman-temannya yang lain rata-rata juara ’lomba’ nyanyi, alias terkadang lebih cepat tiba di finish dari pada pengiringnya.
Oom Nanggong yang bersuara merdu merupakan yang paling senior dalam kelompok itu, karena pada saat yang lain masih sekolah di STM, ia sudah menjadi mahasiswa fakultas Hukum Unhas. Seringnya ia mangkal di rumah kakek saya bukan saja karena berteman dengan Oom saya atau karena radam, namun karena ia juga lagi kasmaran kepada seorang gadis berkulit putih berdarah Gorontalo. Gadis ini tinggal bersama kakaknya yang seorang bidan, letak rumah gadis ini persis di sebelah rumah kakek saya (saat ini rumah gadis itu, saya yang mendiaminya).
Singkat cerita oom Nanggong dan gadisnya menikah dan sekarang sudah punya cucu, salah satunya bernama Fatimah yang menetap di Jakarta bersama orang tuanya. Beberapa hari lalu sahabat FB saya Deasy Aulia meng-upload video Fatimah yang memperlihatkan Fatimah sedang menyanyi, kalau tidak salah ia berucap .. ayo goyang duyu…., walaupun rekaman video itu hanya berdurasi sekian detik, tapi saya berhasil menangkap bahwa bocah ini punya musikalitas, ia mengenal tempo, ia tahu ritme atau irama, artinya tidak sulit kalau diajari menyanyi. Musikalitas adalah given dari Yang Maha Kuasa, ia tidak dapat diajarkan, berbeda dengan suara yang bisa dilatih. Jika kelak Fatima dikenal sebagai penyanyi yang membuana, saya yakin itu bakat yang turun dari kakeknya ditambah bakat dari bapaknya yang vokalis band ternama.

About tettaisla

orang biasa yang mencoba bergaul dengan orang-orang yang biasa melahirkan karya-karya luar biasa
This entry was posted in potpourri. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s