sometimes when we touch

Tanggal 11 Agustus 2008 sekira pukul 10.00 pagi waktu phoenam panakukang Makassar dan sekitarnya, dilaksanakan rilis yang disiarkan secara live oleh radio mercurius, tentang siapa yang layak memimpin Makassar 2008 – 2013. Rilis ini berisi pemaparan tentang hasil survey yang dilakukan oleh Indonesian Research and Development Institute atau sering disebut IRDI.

IRDI adalah sebuah lembaga yang didirikan tahun 2006 bertujuan meningkatkan kualitas riset dan pengembangan sumber daya manusia melalui pendekatan dan strategi inovatif, yang sesuai dengan kepentingan para professional dan pemula, organisasi berskala kecil dan besar, dan institusi swasta dan publik.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut IRDI melibatkan diri dalam hal konsultansi, penelitian, dan kajian yang berkaitan dengan isu-isu sosial, kemasyarakatan, pemerintahan dan politik. Disamping itu lembaga ini juga terlibat sebagai penyelenggara berbagai pelatihan indoor maupun outdoor untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia, pada organisasi swasta dan pemerintahan berkenaan dengan komunikasi, kehumasan, jurnalisme, kepemimpinan, dan pencitraan lembaga.

IRDI saat ini berkedudukan di Jakarta, tapi kental dengan atmosfir Makassar, hal ini mungkin saja disebabkan karena IRDI dipimpin oleh seorang Direktur atau mungkin lebih tepat disebut Direktris, yang asli puteri Sulsel, Notrida GB. Mandica, Doktor lulusan Northern Illinois University. Universitas yang tidak perlu dipertanyakan kredibilitasnya, apalagi sekadar mempertanyakan akreditasinya (seperti layaknya pertanyaan fresh graduate SMU yang akan masuk ke perguruan tinggi di negeri kita).

Kenapa tulisan ini panjang lebar mengulas tentang IRDI, apakah penulis bagian dari IRDI ?. Jawabannya, bukan !, atau lebih tepatnya……. belum !. Saya mencoba menulis tentang IRDI secara lebih lengkap karena seperti kata Hasan Nasbi (project manager ?) IRDI, “tak kenal maka tak sayang”. Tapi menurut saya, ungkapan itu baru sampai taraf betul, ungkapan yang tepat adalah, “tak kenal maka tak percaya”. Ini terlihat dari pertanyaan dari beberapa hadirin yang seolah-olah masih meragukan kredibilitas IRDI dalam melakukan riset atau survey.

Dalam riset yang bertajuk survei Pra-Pilkada Kota Makassar II, dilibatkan tidak kurang dari 50 (lima puluh) orang surveyor muda yang mayoritas mahasiswa tingkat akhir bahkan sementara menghadapi ujian skripsi di UNM. Jumlah responden 1.000 orang (50 % wanita dan 50 % pria), dengan tingkat keyakinan survey 95 % dan margin error-nya sebesar plus-minus 3 %). Sebaran respondennya ada di 14 Kecamatan secara proporsional dan di 91 Kelurahan.

Dalam diskusi hasil survey yang dipandu oleh Andy Mangara, ada beberapa hal menarik untuk disimak. Pertama adalah, ternyata kita (sebagian yang hadir di phoenam) belum numerical minded. Ini tercermin dari dari ketidak-mampuan kita untuk mencermati angka-angka hasil survey yang muncul. Tidak satupun hadirin yang mempertanyakan kenapa angka-angka itu bisa muncul, bahkan ungkapan ketidak-percayaanlah (walaupun tidak secara eksplesit) yang mengemuka dari beberapa tim sukses kandidat. Kita lebih mempercayai polling sms layaknya kontes Indonesian Idol atau KDI, yang kalau tidak dicermati bisa saja bukan hasil polling yang kita dapat melainkan hasil fooling. Ada juga tim sukses yang percaya kepada surveyornya karena berlabel mahasiswa, namun ia tidak sadar bahwa mahasiswa yang dia gunakan adalah mahasiswa dari PTN di mana kakak sang kandidat menjabat sebagai Rektor, bisa saja para sureveyor itu berusaha menyenangkan hati sang rektor (semoga tidak) dengan memanipulasi penyebaran kuesioner atau bahkan mengisinya sendiri. Ada juga tim sukses yang percaya pada mesin partai, tapi sadarkah kita, begitu besar mesin partai yang dimiliki oleh Golkar namun rontok di beberapa pilkada karena lebih percaya pada hasil konvensi dari pada hasil survey.

Kedua, dan ini sangat mengecewakan saya, adanya pewarta dari sebuah Koran yang terpilih sebagai Koran yang paling banyak dibaca oleh responden, malah mempertanyakan waktu survey, padahal telah tertulis di lembaran pertama rilis yang dibagikan, yang saya harapkan dari dia adalah pertanyaan tentang metoda penarikan sample yang digunakan, apakah simple random sampling, proportionate stratified random sampling atau purposive sampling. Bahkan jika bisa mempertanyakan metoda menetapkan atau pembuatan angka acak untuk menentukan responden terpilih.

Ketiga, tidak satupun hadirin atau tim sukses kandidat yang ‘mengejar’ Notrida untuk memaparkan kiat-kiat menaikkan popularitas calon walkot, bagaimana membangun atau memperbaiki citra kandidat dimata masyarakat untuk kemudian menimbulkan rasa suka terhadap kandidat, yang pada akhirnya berujung pada keterpilihan calon. Bahkan salah satu satu calon wakil wali kota meninggalkan ruangan sebelum acara usai, apakah beliau memang ada keperluan yang tidak bisa ditunda atau diwakilkan, ataukah karena sudah tidak tahan dengan kenyataan yang dipaparkan (sayang sekali in-focus tidak tersedia sehingga sangat mengurangi nilai-nilai visual pemaparan).

Sidang pembaca pasti bertanya, apa kaitan isi tulisan ini dengan judulnya ? Tentu saja ada !. Sometime when we touch adalah lagu yang dinyayikan oleh Dan Hill sekitar pertengahan tahun 1990-an, kemudian dirilis ulang oleh Rod Steward. Dan saat ini di Makassar seringkali lagu ini kita dengar dinyanyikan penyanyi wanita berasal dari Singapura bernama Olivia. Pada bait pertama lagu ini terdapat dua kuplet syair yang sangat baik untuk direnungkan, terutama oleh orang-orang atau kita yang masih senang dibuai atau dinina bobokan oleh rayuan pulau kelapa yang memabukkan. Kita seolah senang mengingkari kejujuran karena kejujuran kadang pahit dan beronak sedang dusta selalu manis dan gurih.

Penggalan syair lagu ini dapat menjadi renungan bagi kita yang belum sepenuhnya percaya pada angka-angka hasil survey, namun lebih percaya kepada saran penasehat spiritual atau dukun politik, atau sangat menyukai pemaparan para tim sukses, tim yang pasti sudah sukses mengeruk dana dari para kandidat untuk pencetakan baliho dan spanduk serta upaya-upaya lain dari sebuah program sosialisasi.

………You asked me if I love you, and I choked on my reply

I’d rather hurt you honestly than mislead you with a lie……….

About tettaisla

orang biasa yang mencoba bergaul dengan orang-orang yang biasa melahirkan karya-karya luar biasa
This entry was posted in potpourri. Bookmark the permalink.

One Response to sometimes when we touch

  1. Elni says:

    Halo Pak Is,

    How are you? It’s nice to read your articles in this blog, sounds that you’re a professional journalist.

    Hope to see you around when I visit Makassar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s