Green Earth – Andi Onny – Attitude

images

Taburlah gagasan, petiklah perbuatan,

Taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan,

Taburlah kebiasaan, petiklah karakter,

Taburlah karakter, petiklah nasib

COVEY

Suatu kesempatan langka saya peroleh pada hari Selasa 22 April 2008 (bertetapatan dengan hari bumi), bertemu dengan seseorang ‘pengendali’ bank papan atas. Panin Bank Makassar. Dikatakan langka, karena profesi saya sebagai dosen yang notabene PNS, bila ke bank biasanya tujuannya cuma satu…….. apalagi kalau bukan untuk bermohon kredit.

Namun hari ini kedatangan saya bersama rombongan (Direktur dan Pembantu Direktur, Koordinator Humas serta dua orang mahasiswa AKPAR) berbeda. Kedatangan kami juga sebenarnya ‘meminta’ namun dalam wujud yang lain, yakni minta tanaman untuk menghijaukan kampus kami, kampus yang terletak di kawasan kota mandiri Tanjung Bunga terasa laksana ‘neraka kecil’ di sebuah kawasan elite Kota Makassar. Neraka karena gersangnya dan sinar mentari yang bersinar laksana pancaran dari ‘tujuh matahari’.

Bayangan saya tentang seorang pimpinan bank langsung sirna begitu bertemu beliau, gambaran saya selama ini tentang seorang eksekutive utama sebuah bank, selalu harus tampil dengan pakaian yang ‘wah’. Misalnya setelan jas wool serta rokok cerutu, pelit bicara kecuali masalah profit yang bakal dia peroleh, memandang lawan bicaranya dengan ekor mata, bahkan cenderung kaku laksana patung Patih Gadjah Mada. Penampilan pria bertubuh atletis ini sangat jauh dari kesan itu, ia tampil apa adanya tapi wawasannya amat luas (termasuk geografi Eropa dan sistem kerja sama dengan hotel chain), humble, friendly, serta rela berbagi pengetahuan dengan siapa saja tanpa terkesan menggurui.

Kami datang ke Pak Onny (demikian penghobby Harley Davidson ini akrab disapa) atas rekomendasi Kak Kiblat Said yang notabene adalah wartawan senior sebuah koran ibu kota ‘Suara Pembaruan’. Kiblat sudah lama mengetahui bahwa ada seorang bankir papan atas yang rela mengeluarkan duitnya untuk berbuat sesuatu yang menurut orang lain ‘menghamburkan uang’ dan tidak produktif. Kalau selama ini kita tonton di televisi dan baca di koran banyaknya ‘maling’ (istilah pembalak terlalu keren untuk profesi rampok) kayu di hutan kita maka beliau ini justru sebaliknya. Ia menyiapkan bibit tanaman secara gratis untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.

Dalam perbicangan itu saya menjadi tercengang, betapa seorang bankir sekaliber Andi Onny yang keseharian disibukkan dengan angka-angka, prediksi nilai tukar rupiah, suku bunga yang fluktuatif dan harga minyak yang ‘melambung jauh’ (seperti lagunya Anggun C. Sasmi) masih juga sempat berfikir dan berbuat (bukan sekadar berfikir tapi juga ‘doing’), untuk membuat bumi ini lebih hijau dan asri. Hebatnya (maaf saya harus menggunakan kata ini) lagi, ia juga menggandeng mitra yang tidak tanggung-tanggung, mulai dari para rektor, walikota sampai kepada Pangdam dan Danrem.

Dari kemitraan itu (terutama dengan para Tentara), secara tidak langsung meningkatkan kesejehteraan prajurit. Prajurit yang membuat ‘nursery’ akan mendapatkan keuntungan dengan menjual bibit yang mereka semai, sementara asal bibit mereka peroleh tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Bahkan teknokogi cara mengembang-biakkan, pupuk, hingga polybag juga disubsidi dan gratis !.

Perbincangan yang pada awalnya hanya berkisar tanaman yang dapat menghutankan, beralih ke topik yang selalu hangat, apalagi kalau bukan SDM. Menurut kerabat Jenderal yang dikenal ‘lurus tanpa kompromi’ Almarhum M.Yusuf ini, cara kita menyiapkan SDM selama ini mungkin kurang tepat, karena yang diasah hanyalah kecerdasan intelektual sementara kecerdasan emosional diabaikan. Akibatnya yang tercipta adalah SDM yang tidak punya attitude serta ‘pintar kali-kali sekaligus kongkalikong’. Hal tersebut jelas bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Linda Keegan, seorang vice president bidang executive development, city bank di sebuah Negara Eropa, menurutnya kecerdasan emosional harus menjadi dasar dalam setiap pelatihan manajemen.

Ditambahkan oleh ‘Rider’ yang sudah menjelajah hampir keseluruhan belahan nusantara dengan HD-nya ini, ketika sebuah perusahaan meng-hire karyawan, ia akan menganggap semua calon karyawan itu sama, kecuali satu yang membedakan mereka yaitu ‘attitude’. Ilmu dapat ditimba di manapun, kita membuka situs di dunia maya, apapun yang kita ketik kemudian kita enter, Insya Allah kita akan temukan jawabannya. Namun yang namanya attitude harus dibangun. Ya ! harus dibangun mengingat pengaruh latar belakang keluarga sangat variatif antara seseorang dengan individu yang lainnya juga akan sangat mempengaruhi attitude seseorang.

Penikmat Stephen R. Covey ini berpendapat, yang ia butuhkan bukanlah karyawan yang pintar (apalagi yang ‘pinta-pintar’) namun lebih kepada karyawan yang memiliki sikap dan perilaku atau habits yang efektif. Hanya dengan memiliki habits yang efektif dan dipadukan dengan attitude yang tepat seorang karyawan akan mempunya value.

Kecerdasan intelektual membuat kita hidup,

Kecerdasan emosional membuat kita hidup lebih baik,

Kecerdasan spiritual mewujudkan khairu ummah

About tettaisla

orang biasa yang mencoba bergaul dengan orang-orang yang biasa melahirkan karya-karya luar biasa
This entry was posted in potpourri. Bookmark the permalink.

One Response to Green Earth – Andi Onny – Attitude

  1. sari says:

    Interested !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s