Kepada sAyA

Suatu ketika terjadi percakapan antara saya dengan sahabat saya, tiba-tiba ia berkata : “saya belum mampu untuk khusu’ dan mungkin saya telah menjadi sekuler, dengan melihat kenyataan di dalam masyarakat yang katanya beragama”. Saya terperanjat mendengarnya, namun mencoba untuk menyembunyikannya dengan tetap menatap pada monitor laptop yang ada di hadapan saya. Apa benar ia sekuler ? kataku membatin. Saya menganalisa ulang kata-katanya sambil mencoba mengingat perilakunya sehari-hari di kantor. Saya tidak menemukan jawaban bahwa ia sekuler, dimataku ia seorang yang percaya bahwa Tuhan itu ada dan tetap menjalankan ritual agamanya. Apa yang membuat sahabat saya ini demikian putus asa melihat kenyataan sehari-hari ?

Sahabat saya yang lain membaca e-mail atau mungkin saja sumbangan tulisan di blog gerejanya : Yesus, mengapa Engkau tak lahir di negeri ini ?, ia terbahak sambil memperlihatkan tulisan itu pada saya, salah satu kalimat yang menarik perhatian kami “teriakan Allahu Akbar dapat berarti kematian dan teriakan Haleluyah juga berarti kematian”. Rupanya itu tulisan tentang seseorang yang risau akan Maluku dan Poso di masa lalu (?).

Dua pengalaman itu mengusik benak saya, apa ia saya masih harus beragama ? bila simbol-simbol ketuhanan telah dipakai untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Apakah Tuhan membenarkan hambanya yang katanya beragama untuk berbuat semaunya bahkan sampai menghilangkan nyawa sesamanya yang nota bene adalah juga ciptaan-Nya ?.

Saya tidak pungkiri, bila kenyataan yang saya lihat sehari-hari seakan-akan manusia yang beragama telah melupakan esensi agama itu sendiri. Beragama itu memang penting namun jauh lebih penting mengedepankan sikap dan sifat spiritual dalam bertindak. Saya percaya Tuhan itu ada, saya percaya ada hari pembalasan, saya percaya karmapala itu pasti terjadi, namun laku saya tidak mencerminkannya karena hilangnya nilai-nilai spiritualisme dalam kehidupan saya.

Saya menjalani kehidupan barulah sampai pada taraf “life only for bread” dan belum pada “life NOT only for bread” seperti kata Konosuke Matsushita. Matsushita yang lahir di Wakayama Jepang (1894 – 1989) adalah pendiri dan pemimpin group Matsushita, ia adalah raja National – Panasonic yang produknya sangat beragam, dari seterika listrik sampai instrumen pesawat terbang. Kalau bicara masalah duit tentu sangat punya, mungkin bila ia ingin maka semuanya terbeli, mulai dari narkoba (narkotika dan baine) sampai membeli keadilan dan menginjak-injak hak azasi orang lain, dapat saja ia lakukan. Namun yang ia lakukan adalah mengabdikan hidupnya sebagai pendidik, menulis 46 judul buku serta menjalani kesehariannya dengan sangat bersahaja. Diakhir hayatnya ia menyumbangkan US $ 291 juta dari kocek pribadinya dan US $ 99 juta dari kas perusahaannya untuk kepentingan kemanusiaan.

Matsushita bukanlah seorang muslim karena kalau muslim mungkin saja namanya Muhammad Saiful (maaf Oom Ipul, namanya saya pinjam tanpa izin) ia juga bukan nasrani karena kalau nasrani mungkin saja ia bernama Michael Frank (sorry Frank), ia juga bukan orang Hindu – Bali, karena kalau ia ‘nak Bali’ pastilah dipanggil I Komang Matsushita. Ia seorang yang menganut faham Shinto, ia barangkali tidak mengenal Allah, Yesus Kristus atau Sang Hyiang Widhi (kecuali mungkin dari televisi, radio, bacaan dan cerita orang-orang di sekitarnya). Namun ia memiliki dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai spiritualitas dalam menjalani kehidupannya, termasuk dalam menjalankan dunia bisnis yang sangat dekat dengan individualisme dan monopoli !.

Spiritualitas atau spirituality berkaitan erat dengan soal pemaknaan hidup, apa yang membuat kita memberi makna terhadap apapun juga, serta pengalaman batin yang sangat subjektif dan dieksternalisasikan ketika kita merespon orang dan peristiwa (Simandjuntak, 2007). Agama tidak sama dan sebangun dengan spiritualisme dan moralitas, karena banyak orang beragama tetapi tidak mencerminkan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dalam kesehariannya di tempat ia bekerja.

Spiritualitas di tempat kerja (workplace spirituality) adalah : the recognition that people have inner life that nourishes and is nourished by meaningful work that takes place in the context of community (Robbins & Judge, 2007).

Hasil penelitian majalah SWA diawal tahun 2007 terhadap 41 orang CEO dari berbagai perusahaan membuktikan bahwa, perusahaan (baca : organisasi) sangat membutuhkan sedikitnya 5 (lima) nilai-nilai luhur spiritualitas : integrity, responsibility, excellence, trustworthy dan respect  (koq mirip dengan Asmaul Husnah ya ?).

Nah, apakah ada perusahaan yang disebut spiritual company ? menurut Simandjuntak (2007), ada !. IBM, Unilever, Matsushita, UPS, Southwest, dan Starbucks. Mereka menerapkan nilai-nilai spiritual dan mampu bertahan serta terus berkembang.

Bila perusahaan yang profit oriented saja menerapkan prinsip atau nilai-nilai spiritual dalam kesehariannya, apatah lagi saya yang bekerja di dalam sebuah organisasi yang bergerak dalam dunia pendidikan. Organisasi yang bertujuan untuk mencetak anak bangsa yang terampil dan professional, bukan organisasi pencetak anak bangsat (seperti kata rijalkodong).

Nilai-nilai spiritual harus saya fahami dan amalkan, karena hanya dengan mengamalkan nilai-nilai spiritual, saya yang hanya small peanut ini akan mencoba membantu terciptanya sebuah organisasi yang menyenangkan, nyaman, harmonis dan mempunyai good image serta jauh dari fraud.

Dengan nilai-nilai spiritual, saya bekerja tidak lagi sekadar mencari nafkah atau bersosialisasi melainkan ingin memberikan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.

About tettaisla

orang biasa yang mencoba bergaul dengan orang-orang yang biasa melahirkan karya-karya luar biasa
This entry was posted in Paseng. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kepada sAyA

  1. le Marta says:

    Saya ingat, Flip ,anak yg tiap hari saya jemput dari sekolah pernah berkata:

    ”Risma, do you beieve in Jesus?” dan saya jawab “yes, i do”.

    Ia terdiam sejenak kemudian melanjutkan lagi : “i don’t believe in Jesus but i do believe that stealing is a sin!”.

    Well, kliatannya si Flip termasuk golongan atheis, but saya harus angkat topi dgn pembenaran dirinya bahwa nilai2 spiritual harus dipahami dan dijalankan with or without believe in god.

    Aniwei boss, i keep enjoying reading ur blog. And i think this new layout better than the previous one. Keep writing, jangan lupakan TLKD kodong ^-^

  2. Muhammad Anis says:

    It’s good writing sir..
    Walaupun dengan bahasa tingkat tinggi tapi saya bisa memahami satu hal bahwa agama tidak akan pernah berarti jika kita hanya menjadikan itu sebagai simbol, tanpa pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari dalam hal ini adalah nilai-nilai spritual yang ada dalam setiap diri manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s