South Sulawesi Best Natural Asia

Pengantar :

Sebenarnya tulisan ini sudah pernah dimuat di harian Tribun Timur Edisi 10 Januari 2008, namun karena cukup banyak yang kena gunting sensor, sehingga sekiranya ada teman-teman yang ingin melihat naskah aslinya berikut ini saya tuliskan ulang.

What’s in a name ? That which we call a rose by any other word would smell as sweet. Penggalan percakapan ini diucapkan Juliet kepada sang kekasih Romeo, pada act 2 scene ii film Romeo and Juliet karya William Shakespeare

Namun almarhum kakek saya berpendapat lain, “nama adalah cerminan dari orang yang menyandangnya, berikanlah nama yang baik-baik agar kelak anakmu bisa menjadi orang baik, namun jangan beri nama yang ‘terlalu berat’ karena anakmu tak akan kuat menyandangnya dan mungkin saja akan sakit-sakitan” demikian pesannya.

Nama dan brand adalah dua kata yang serupa tapi tak sama. Secara sederhana nama dapat diartikan kata yang diberikan kepada sesuatu yang salah satu tujuannya untuk membedakannya dengan yang lain. Sedangkan arti umum dan sederhana kata brand adalah cap, merek atau identitas dari sebuah barang atau produk yang dihasilkan oleh sebuah pabrik atau perusahaan (a type of product manufactured by a company under a particular name – oxford).

Masyarakat dari suku tertentu, proses pemberian nama kepada seorang anak yang baru lahir biasanya dilakukan dengan mengadakan serangkaian upacara, misalnya dengan menggelar acara selamatan dan ditandai dengan menyembelih kambing, menghidangkan ka’do’ minynya’ dan songkolo tuju rupa, umba-umba serta ayam goreng yang disantap setelah barzanji, sementara masyarakat lainnya membuat bubur yang diberi warna sampai tujuh macam.

Brand dan Branding

Pembuatan brand walaupun tidak dilengkapi dengan serangakaian upacara adat (kecuali mungkin pada saat di-launching), namun jauh lebih rumit dari sekadar memberi nama. Pembuatannya haruslah melewati serangkaian studi yang dilengkapi dengan berbagai kajian ilmiah, waktu yang relatif lebih lama dan melibatkan para pakar dalam bidangnya masing-masing serta membutuhkan biaya yang tidak kecil. Bisa dibayangkan besarnya kerugian yang akan diderita bila kita salah dalam menetapkan sebuah brand.

Brand atau branding berasal dari kata bahasa inggris kuno ‘brond’ yang artinya kira-kira musnah terbakar (burn dalam bahasa inggris modern). Pada masa lalu, brand dikenal sebagai sebuah tindakan untuk memberi cap atau tanda pada sapi, pelaku tindak kejahatan dan (maaf) budak, agar diketahui siapa pemiliknya. Pemberian tanda ini biasanya dilakukan dengan menggunakan logam yang dipanaskan.

Branding merupakan sebuah identifikasi dari sebuah produk, branding dapat pula berarti deklarasi tentang sebuah produk, negara atau daerah. Bagi sebuah negara atau daerah, branding merupakan salah satu cara untuk memberikan gambaran kepada orang lain tentang potensi yang dimiliki ataupun sebuah ajakan untuk bekunjung atau menikmati apa yang kita miliki (Visit Indonesia Year 2008). Ada beberapa negara atau wilayah yang memperkenalkan dirinya melalui branding, sebut saja pulau dewata Bali yang melaksanakan soft launching branding pada Juni 2007 dengan ‘Bali: Shanti Shanti Shanti’, Makassar dengan Makassar Great Expectation, Singapura dengan Uniquely Singapore, Thailand: Amazing Thailand, Jakarta dengan Enjoy Jakarta serta Malaysia yang ‘memproklamirkan’ dirinya sebagai negara di mana kita bisa menemukan dan menikmati Asia yang sebenar-benarnyanya, melalui Malaysia Truly Asia yang sekarang banyak diplesetkan, utamanya oleh para blogger Indonesia menjadi (maaf) The Truly MalingAsia, sebagai reaksi atas klaim kepemilikan beberapa pulau, kesenian dan lagu hasil karya anak bangsa dan budaya kita.

South Sulawesi Best Natural Asia

Selasa (11/12) di Clarion Hotel & Convention Makassar, diperkenalkan brand Sulawesi SelatanSouth Sulawesi Best Natural Asia’, acara perkenalan ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH, dihadiri oleh insan pariwisata, baik dari kalangan pakar, praktisi, akademisi maupun pemerhati. Diharapkan dengan adanya brand baru ini bisa menghidupkan pariwisata Sulsel yang kini kian sepi dengan wisatawan asing.

Wujud branding image berupa logo yang terdiri atas tiga garis terpisah yang diambil dari huruf lontara sa la ba atau asal kata Celebes. Garis pertama berwarna biru menyerupai gelombang dan garis kedua berwarna hijau menyerupai gunung melambangkan kesuburan. Garis terakhir berwarna kuning berbentuk layar atau passapu, kain yang sering dikenakan di kepala mayoritas lelaki Sulsel pada zaman dulu. Jika diperhatikan, garis-garis tersebut menyerupai sebuah perahu yang tengah berlayar mengarungi ganasnya gelombang laut. Kita berharap brand yang baru ini bisa membangkitkan pariwisata Sulsel,” kata Wagub Syahrul YL yang membuka sosialisasi brand tersebut.

Menyimak kata-kata atau tag line dari brand ini, sungguh suatu yang luar biasa, ia diperkenalkan di tengah berlangsungnya Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Climate Change Conference — UNCCC) 2007 di Nusa Dua, Bali, dan mungkin saja hasil-hasil dari konferensi itu akan ikut terpengaruh oleh tag line ini, atau sebaliknya karena terjadinya global warming kita merasa terpanggil untuk menyelematkan bumi ini dari pemanasan global.

Kepariwisataan Sulsel cukup berkembang, hal ini tercermin dari ekspose yang dipaparkan oleh Sub Dinas Pemasaran dan Hubungan Lembaga Wisata Internasional, Disbudpar Sulsel. Dalam ekspose itu dipaparkan bahwa, hingga akhir Oktober 2007 jumlah wisman yang berkunjung ke Sulsel mencapai 21.210 orang yang diperkirakan akan terus bertambah sehingga melampaui jumlah kunjungan wisman tahun lalu sebesar 22.249 orang.Kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) juga memperlihatkan angka yang menggembirakan, hingga akhir Oktober 2007 mencapai angka 1.089.982 orang dan diperkirakan akan terus bertambah sekitar 15 persen hingga akhir Desember 2007. Tahun 2006 jumlah kunjungan wisnus ke Sulsel mencapai angka 1.120.895 orang (Tribun Timur, 14/12).

South Sulawesi Best Natural Asia merupakan brand yang mampu mengalahkan brand beberapa daerah/kota maupun negara. Ia mampu mengalahkan Jakarta yang baru mampu mengajak kita untuk menikmati Jakarta dengan Enjoy Jakarta-nya. Tagline Sulsel juga lebih sakral dibandingkan tag line Indonesia yang hanya mengusung kalimat Visit Indonesia Year 2008. Bahkan Bali sebagai daerah tujuan utama wisatawan mancanegara dan nusantara dengan taglineShanti, Shanti, Shanti”. Kata ”shantibermakna damai. Jika diucapkan tiga kali akan dialiri spirit kedamaian dan keharmonisan, tak berdaya menghadapi tag line kita.

Ketika teman saya ikut membaca tag line Sulsel, kalimat pertama yang muncul adalah : ‘barometer apa yang digunakan untuk membuat tag line tersebut’. Dikesempatan lain, sahabat saya yang satu lagi, yang mengidap penyakit kronis (komplikasi koro-koroang dan kritis), juga bertanya dengan nada protes : “apa yang bisa dibanggakan dengan keadaan alam Sulsel selain pantai atau kepulauan spermonde ?”. Kemudian ia secara panjang lebar menceritakan keadaan alam provinsi kita (seolah dialah yang paling tahu tentang keadaan Sulsel). Apa yang bisa dibanggakan dengan natural dan keadaan Sulsel secara umum, hutan kita sudah habis, tanah longsor di Sinjai terjadi tahun lalu, Malino yang mulai gerah, Makassar yang miskin taman kota akibat pesatnya pembangunan ruko, rusaknya terumbu karang di Takabonerate, Toraja yang sudah mulai terkikis alamnya sebagai akibat munculnya bangunan modern tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan, pencemaran pantai losari, bandara yang tidak didarati maskapai internasional, tenaga kerja pariwisata yang unggul dalam kuantitas tapi belum tentu dalam kualitas, dan segudang pertanyaan yang lebih mirip protes ia muntahkan dalam sekali helaan nafas. Saya menjadi panik mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, apakah sudah seburuk itu kondisi alam kita ? apakah natural hanya terbatas persoalan fisik semata dan aspek budaya tidak masuk ?. Ah, mungkin sahabat saya itu termasuk orang-orang yang memang senang protes, dan termasuk kelompok orang yang senang melihat orang lain susah dan malah susah melihat orang lain senang. Setelah berhasil menenangkan diri dari kepanikan, saya berhasil merubah arah berfikir saya ke arah yang lebih posistif, berfikir positif dan tetap optimis (seperti anjuran presiden SBY) memang kita butuhkan untuk mengangkat martabat pariwisata Sulsel.

Pikiran positif yang pertama, keadaan alam Sulsel masih termasuk yang terbaik di Asia, walaupun ada yang berpendapat Indonesia masuk dalam Guinness Book of Record sebagai negara dengan laju kerusakan hutan yang tercepat di dunia. Sulsel memang bagian dari Indonesia tapi kerusakan lahan kita barulah sampai taraf mengkhawatirkan, seperti yang diekspose Dinas Kehutanan Sulsel bahwa, lahan kritis kita baru mencapai 682 ribu hektar dari sekitar 2,2 juta hektar, yang terdiri dari lahan di dalam kawasan hutan seluas 369 ribu hektar dan di luar kawasan hutan seluas 312 ribu hektar (Tribun Timur, 14/12).

Kedua, pencemaran pantai losari yang katanya mengandung limbah beracun, sehingga membuat para ibu-ibu pencari tude yang bermukim di sekitar kelurahan Lette dan Mariso berdemo dan mengancam akan menggelar acara makan tude di hadapan Wakil Walikota Makassar, semata-mata karena gejala alam. Deretan hotel berbintang dan sebuah rumah sakit di sepanjang pantai losari, tentu telah melengkapi diri dengan sistem pengolahan limbah yang canggih, sehingga tidak mungkin mereka mencemari pantai losari. Para pengrajin emas di sepanjang jalan Somba Opu juga telah mampu mendaur ulang zat kimia yang mereka gunakan dalam membuat perhiasan, sehingga tidak ada setetespun mercury masuk ke saluran pembuangan yang muaranya di pantai losari.

Ketiga, dalam pembuatan South Sulawesi Best Natural Asia yang konon berbiaya sekitar Rp.180 juta, adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan telah direncanakan jauh sebelumnya, bukan sebuah proyek mercusuar dengan mantera simsalabim dan langsung jadi, Pekerjaan ini melibatkan banyak pihak, seperti pakar dari berbagai disiplin ilmu termasuk praktisi pariwisata (bukan parawisata), Bahkan telah mengadakan riset yang mendalam. Tidak seperti pembuatan tag line Bali yang katanya hanya mewawancarai 900 narasumber.

Keempat, kita juga harus meyakini bahwa pembuatan brand ini tidak perlu mendapat protes seperti yang disampaikan oleh Ketut Surya Diarta dalam mengkritisi tag line-nya Bali. Menurutnya pembuatan tag line Bali mengabaikan aspek sosiologis, semiotik, tidak fokus pada image baik dari sisi content analysis maupun discourse analysis. South Sulawesi Best Natural Asia, pastilah dirumuskan dengan mengedepankan kaidah pariwisata sebagai sistem simbolik hasil interaksi antara masyarakat Sulsel, sebagai tuan rumah dengan wisatawan sebagai tamu, yang dimediasi oleh pemakaian simbol, lambang, dan interpretasi.

Brand Sulsel tidak asal buat, tetapi telah memperhitungkan kekuatannya untuk menghubungkan dengan seketika makna dan konsepsi budaya antara pembuat branding dengan sasarannya yakni calon wisatawan. Budaya yang kuat itu tidak saja berguna untuk membentuk image namun sekaligus menjadikan Sulsel sebagai sebuah ‘mitos’. Artinya bila seseorang menemukan kata natural di manapun ia berada maka yang terbersit di benaknya adalah Sulsel. Seperti ketika kita membutuhkan air mineral maka hanya satu merek yang langsung teringat.

Simbol yang digunakan dalam brand Sulsel juga dengan sangat tepat merepresentasikan manusia dan keadaan alam Sulsel. Pelaut yang gagah berani mengarungi samudra lepas dan memiliki jiwa kesatria serta bukan jenis manusia yang pa’bambangang na tolo”. Laut dan pantai yang membiru dan jauh dari pencemaran, taman-taman kota nan asri serta pegunungan dan hutan yang menghijau tak tersentuh oleh para pembalak liar.

Dari aspek heritage, Sulsel memiliki gedung-gedung peninggalan yang sarat makna sejarah dan arsitektur, seperti istana raja-raja, chinatown, benteng, bangunan peninggalan kolonial Belanda yang tetap dilestarikan, terawat dengan baik tak tergusur oleh bangunan modern dan rumah toko. Dari aspek budaya kita memiliki museum di setiap Kabupaten dan Kota sebagai tempat menyimpan bukti-bukti kebudayaan. Musem-museum ini terkelola dengan sangat apik dan menarik minat untuk dikunjungi membuat kita harus antri untuk masuk menyaksikan koleksinya. Untuk merefleksikan budaya dan arsitektur Sulsel, kita juga memiliki taman miniatur Sulsel atau yang dikenal dengan sebutan benteng Somba Opu yang tak pernah sepi dari pengunjung, pengunjung yang rela dan tanpa beban mengeluarkan uangnya untuk membeli karcis masuk.

Keunggulan dan kekuatan Sulsel sebagai destinasi wisata, tidak hanya dari segi fisik, namun juga sangat didukung oleh tersedianya SDM yang mumpuni, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas kita memiliki tenaga kerja sekitar 5.000 orang, sedangkan dari segi kualitas SDM pariwisata Sulsel adalah tenaga yang mempunyai latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang yang digelutinya seperti hotel, restoran serta biro perjalanan wisata dan pemandu wisata. Para tenaga kerja itu juga adalah tenaga kerja yang kompeten dan telah memiliki sertifikat kompetensi dalam bidangnya masing-masing.

Sementara itu masyarakat Sulsel sebagai salah satu bagian dalam rantai kegiatan wisata, adalah masyarakat yang ramah, sopan dan sangat bersahabat terhadap setiap pendatang. Masyarakat (termasuk mahasiswa) adalah masyarakat yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi, kita tidak pernah melihat gelombang demonstrasi untuk memaksakan kehendak pribadi atau golongan, masyarakat kita juga sangat jauh dari tindakan main hakim sendiri apalagi anarkis.

Terakhir, South Sulawesi Best Natural Asia, bukanlah brand yang ‘terlalu berat’, sehingga kekhawatiran almarhum kakek saya seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini tidak akan terbukti, (maafkan cucumu, semoga Abah tenang dan damai di sisi-Nya).

About tettaisla

orang biasa yang mencoba bergaul dengan orang-orang yang biasa melahirkan karya-karya luar biasa
This entry was posted in Tours & Travel. Bookmark the permalink.

4 Responses to South Sulawesi Best Natural Asia

  1. roni says:

    “Best Natural Asia”
    Luar Biasa… dgn memasukan kata ASIA, Sul-Sel jelas menyatakan siap dibandingkan dgn Thailand, Timur Tengah, Jepang, atau yg sesama Indonesia… Bali. Hmm…. destinasi2 dgn nama besar yg cm tdk dikenal oleh katak dalam tempurung. Dan telebih lagi dgn kata “Best”. Huff…sy merinding! dgn kata lain, Sul-Sel berani berkata, “They are not better than us”
    WOW! Salut untuk para perancang brand luar biasa ini. Sy sbg warga yg ikut menikmati hasil pariwisata menunggu khasiat brand hebat ini. Semoga Thailand,Bali,dll tdk terkaget2 mendengar ini.

  2. daeng limpo says:

    Pertamaxxxxxx, Salam kenal

  3. aRuL says:

    nikmatnya punya daerah seindah South sulawesi yah.
    salam kenal🙂

  4. karaengisla says:

    Untuk daeng limpo dan aRul : Wa Alaikum Mussalam…… mariki masuk adaja kodong…… dan terima kasih sudah mauki datang bersilaturrahmi.
    Untuk Kang roni……. kalo Akang merinding saya dah kena malaria dengan brand itu, moga-moga pencetusnya segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s