Pengertian Hospitaliti

PENGERTIAN HOSPITALITI

Advertisements
Image | Posted on by | Leave a comment

Productivity Standard

Productivity standards atau standar produktivitas, dapat diartikan, “jumlah” pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh setiap karyawan. Pembuatan standar produktivitas dimulai dengan menjawab pertanyaan : berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seorang karyawan dalam menyelesaikan pekerjan (sesuai dengan performance standards yang telah ditetapkan) yang dibebankan kepadanya. Standar produktivitas harus ditentukan bagi setiap karyawan dengan mengacu pada rencana biaya operasional yang telah ditetapkan. Karena beragamnya performance standards yang diterapkan oleh setiap hotel, sehingga mustahil untuk dapat membuat suatu standar produktivitas yang berlaku secara umum. Besar kecilnya suatu hotel dan tingkat pelayanan yang harus diberikan kepada para tamunya juga mengakibatkan beragamnya standar produktivitas bagi setiap karyawannya. Salah satu cara yang digunakan untuk menetapkan standar produktivitas adalah, housekeeper harus mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh karyawannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, sesuai dengan standar pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, standar produktivitas seorang Pramukamar dalam menyiapkan kamar, adalah dengan membagi waktu kerja yang tersedia dengan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan sebuah kamar dalam satu priode kerja atau shift. Kualitas dan kuantitas hasil kerja dapat menjadii sebuah belati yang bermata dua. Disatu sisi, jika penetapan performance standards terlalu tinggi , maka jumlah pekerjaan yang dihasilkan akan rendah. Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu kekuatan bagi seorang housekeeper, untuk menambah jumlah karyawan agar semua perkerjaan dapat terlaksana. Sementara di lain pihak, lambat atau cepat ( biasanya lebih cepat dari perkiraan ), pimpinan tertinggi hotel atau general manager akan menggunakan kedua mata belati itu untuk memotong tingginya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh housekeeping department. Tindakan ini memaksa housekeeper mengurangi jumlah karyawannya serta menyeimbangkan antara produktivitas dan kualitas dengan cara, meninjau kembali performance standard agar tetap sejalan dengan productivity standards. Di sisi yang lain jika penetapan p e r f o r m a n c e s t a n d a r d s t e r l a l u r e n d a h , kuantitas pekerjaan akan tinggi. Pada awalnya general manager mungkin saja
akan merasa puas. Performance standards yang terlalu rendahi dapat mengakibatkan keluhan dari tamu dan karyawan meningkat, sebagai refleksi dari kondisin hotel yang berubah kotor atau tidak standar, keadaan ini memungkinkan general manager sekali lagi menggunakan belatinya, kali dengan memotong karier si housekeeper dengan jalan menggantinya dengan orang lain, dan mengawasi langsung biaya operasional housekeeping dengan ketat. Tantangan yang harus dijawab adalah menyeimbangkan antara standar kualitas pekerjaan dengan tingkat kuantitas pekerjaan. Kedua hal tersebut jangan dianggap sebagai dua mata belati yang dapat melukai, keduanya dapat dijadikan sebagai alat bantu dan kontrol bagi yang lainnya.

Posted in Room Division | Leave a comment

Performance Standard

Dalam pembuatan performance standard hal yang pertama dilakukan adalah dengan menjawab pertanyaan :

1. Item apa saja yang harus dibersihkan atau di-maintain dan di area mana berada ?

2. Standar apa saja yang harus dipenuhi dalam melaksanakan pekerjaan tersebut ?

Performance standard bukan saja berisi tentang kegiatan apa saja yang harus dilaksanakan, namun juga mencakup secara detail bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Salah satu tujuan utama dalam merencanakan pekerjaan di housekeeping adalah bagaimana agar setiap karyawan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kunci agar pelaksanakan pekerjaan selalu konsisten atau standar, maka sorang housekeeper harus membuat performance standard, melakukan komunikasi dan pengarahan kepada bawahannya. Aspek terpenting yang dapat dicapai dengan adanya performance standard adalah terjadinya suatu konsensus tentang bagaimana pelaksanaan suatu pekerjaan. Performance standard merupakan hasil kerja sama yang dibuat antara management dan karyawan dalam sebuah program pelatihan. Sehingga dapat dikatakan performance standard merupakan kesepakatan bersama yang harus dijalankan dan ditaati oleh semua karyawan, karena mereka sendirilah yang membuatnya. Pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dengan standar hanya dapat dicapai memalui program pelatihan yang berkesinambungan. Setelah mendiskusikan ( lebih tepat apabila dikatakan menguji ) sebuah performance standard dalam sebuah program pelatihan, maka seorang housekeeper harus melaksanakannya. Untuk memastikan apakah pelaksanaan setiap pekerjaan sudah sesuai dengan performance standard, maka kata kuncinya adalah pengawasan. Hasil pengawasan yang dilaksanakan setiap hari dan evaluasi hasil kerja yang dilakukan secara berkala harus ditindak-lanjuti dengan program
retraining. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap karyawan melaksanakan tugasnya dengan efektif dan efisien. Housekeeper harus melakukan review minimal sekali setahun, untuk melihat apakah departemennya – secara keseluruhan – telah melaksanakan performance standard yang telah ditetapkan, ataukah dia harus melakukan suatu revisi dan membuat metode kerja baru untuk diterapkan pada tahun berikutnya.

Posted in Room Division | Leave a comment

Frequency Schedule

Pengertian frequency schedule adalah berapa kali sebuah item yang tercantum dalam inventory list harus dibersihkan atau di – maintain . Frekwensi pembersihan sebuah item dapat saja setiap hari atau setiap minggu tergantung pada prosedur standar pelaksanaan pekerjaan sebuah hotel, sedangkan waktu pemeriksaannya dapat saja harian atau mingguan, tetapi secara berkala harus tetap dilaksanakan general (deep) cleaning. Pembuatan jadwal general cleaning harus dibuat dalam suatu calendar plan . Calendar plan tersebut merupakan pedoman housekeeper untuk membuat bukan saja untuk jadwal kerja bagi stafnya, tetapi jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk melaksanakan special cleaning project tersebut. Dalam pembuatan jadwal general cleaning, maka housekeeper harus memperhitungkan beberapa hal. Sebagai contoh general cleaning dilakukan pada saat low season dan memperhatikan rencana kerja departemen lain, misalnya dengan memperhatikan kapan jadwal pemeliharaan air conditioner oleh engineering department. Perencanaan sebuah jadwal general cleaning haruslah dapat meminimalkan gangguan terhadap tamu maupun departemen lainnya.

Posted in Room Division | Leave a comment

Area Inventory List

Perencanaan pekerjaan di Housekeeping department dimulai dengan pembuatan
sebuah inventory list dari semua area yang menjadi tanggungjawab dari Housekeeping
Department. Pembuatan area inventory list merupakan langkah awal dalam
perencanaan, karena dengan daftar tersebut akan diketahui semua pekerjaan yang
harus dilakukan oleh housekeeping. Inventory list meruapakan suatu daftar yang
panjang dan harus ditulis secara terperinci. Hal tersebut disebabkan karena
beragamnya karakteristik ruang dan area yang menjadi bidang tugas housekeeping.
Untuk pembuatan inventory list sebuah guestroom, cara yang paling baik adalah
dengan mengikuti tata cara atau urut-urutan pembersihan kamar oleh Pramukamar
dan urutan – urutan pemeriksaan kamar oleh Penyelia. Hal ini juga akan memudahkan
Housekeeper dalam pembuatan prosedur pembersihan, pembuatan modul training
karyawan dan pembuatan daftar periksa kamar. Sebagai contoh inventory list sebuah
kamar, dibuat secara berurutan searah atau berlawanan dengan jarum jam serta dari
atas ke bawah. Beragam metode lain dapat saja dibuat sesuai dengan selera dan
kebutuhan, namun yang terpenting dalam hal ini adalah sistem yang telah dibuat
harus dijalankan dan dipatuhi baik oleh Pramukamar maupun oleh Penyelia dalam
melaksanakan tugasnya masing – masing.

Posted in Room Division | Leave a comment

PERENCANAAN PEKERJAAN HOUSEKEEPING

Perencanaan mungkin merupakan fungsi manejerial yang sangat penting untuk dilakukan oleh seorang Housekeeper. Tanpa perencanaan yang matang dan tepat, maka pelaksanaan operasional Housekeeping akan berakibat krisis demi krisis dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Krisis yang paling mungkin terjadi adalah menurunnya kinerja dan moral karyawan, penurunan produktivitas dan peningkatan biaya operasional. Tanpa perencanaan yang tepat juga dapat mengakibatkan seorang Housekeeper tidak akan dapat membedakan, pekerjaan mana yang harus didahulukan dan mana pekerjaan yang dapat ditunda pelaksanaannya, dalam rangka pencapaian tujuan sebuah hotel. Karena Housekeeping Department bertanggung jawab atas kebersihan dan pemeliharaan seluruh area hotel yang sangat beragam karakteristiknya, maka perencanaan pekerjaan di Housekeeping merupakan suatu pekerjaan atau tugas yang amat berat. Tanpa suatu perencanaan yang sistematik dan berkesinambungan step by step, Housekeeper akan mudah dibuat frustasi oleh demikian banyak pekerjaan yang bukan saja harus dapat diselesaikan, tetapi harus terlaksana secara sempurna, tepat waktu dan biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan rencana pembiayaannya. Berikut ini diberikan langkah – langkah kerja yang harus dilakukan dalam membuat suatu perencaan pekerjaan di Housekeeping :

1. Area Inventory List

2. Frequency Schedule

3. Perfomance Standard

4. Productivity Standard

Posted in Room Division | Leave a comment

SDM, Marketing dan Kreatifitas

image

Hari ini saya bertemu dengan orang-orang yang menurut saya profesional di bidangnya.
Pagi hari saya bertemu dengan dua orang pewarta muda, di sebuah toko yang disebut gembira. Toko tetapi jualan kopi dan mie instant rebus.
Dua pewarta muda ini mengeluhkan masih adanya instansi pemerintah yg sangat sulit untuk diliput, jika liputan itu tidak bersifat seremonial. Saya timpali dengan kata-kata, orang atau lembaga tidak akan menjadi besar karena pujian tetapi kritiklah yang mampu membesarkan kita.
Sekira jam 11.00 saya bertandang ke hotel Aston Makassar untuk monitoring mahasiswa praktikan atau lazim disebut trainee.
Diantar oleh staf HRD yang notabene adalah alumni tempat saya mengajar. Sang alumni sedikit kagok dalam menjelaskan segala sesuatunya kepada saya, tapi saya kuatkan dengan kata-kata, “you’re the boss now, just do it !”.
Setelah selesai berkunjung ke beberapa outlet, bertemulah saya dengan GM hotel tersebut, banyak yang kami perbincangkan mulai dari masalah togem alias toko gembira sampai pada masalah SDM dan penyiapannya, serta quality of service, kutipannya seperti ini :
1. SDM itu harus disiapkan dengan benar, karena siapa lagi yang akan menggantikan kita semua kalau bukan mereka. Pemberian materi kepada mereka haruslah dilakukan dengan memperhatikan pakem-pakem yang berlaku di dunia pariwisata. Anda tidak dapat memotivasi mereka dengan kata-kata penyemangat tetapi dengan sikap yang jauh dari dunia hospitality.
2. Quality of service itu harus difahami oleh seluruh jajaran Anda. Anda harus dapat menjadi contoh atau role model bagi bawahan atau rekan kerja Anda. Sebagai contoh ketika tamu Anda mendapatkan layanan food and beverage, kita akan berhadapan dengan “panca indera” tamu, salah satu inderanya tidak terpenuhi oleh layanan kita maka rusaklah produk itu secara keseluruhan.
3. Property sebagus apapun (apalagi kalau sudah berumur), hanyalah sebuah benda mati. Isi dari property itulah yang Anda harus jaga agar tetap dapat tampil prima dan dibutuhkan kreatifitas dalam menghasilkan produk dan layanan serta jeli dalam melihat pasar.
Sambil menghabiskan cappuccino (hari ini saya minum kopi lumayan banyak, secangkir kopi hitam di rumah, segelas kopi susu di togem dan cappuccino di lobby Aston Makassar) saya membatin, ternyata dunia hospitality ilmunya masih dan masih sama dengan ilmu yang pernah saya kenyam di bangku pendidikan. Tourism is a very detail business. Tourism secara keseluruhan membutuhkan perhatian setidaknya pada tiga hal, SDM, pasar dan, kreatifitas.
Terima kasih Adi, Erick, Husni, Irla Andini Gunawan dan, tentu saja Mr. Joko Budi Jaya

 

| Leave a comment

BUTIR – BUTIR KONSOLIDASI KEPARIWISATAAN 2015

BUTIR-BUTIR KONSOLIDASI PENYATUAN LANGKAH AKSELERASI PEMBANGUNAN DESTINASI DAN INDUSTRI PARIWISATA

Sektor strategis dan Pemangku Kepentingan yang terkait erat dengan Pembangunan Destinasi dan Industri Pariwisata dengan ini meneguhkan komitmen kami untuk mendukung Pembangunan Destinasi dan Industri Pariwisata, melalui upaya-upaya :

  1. Mendukung pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan bagi 10 destinasi pariwisata (KSPN) yang menjadi prioritas nasional
  2. Meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi peraturan perundangan yang terkait dengan pengembangan 88 KSPN yang sudah ditetapkan dalam Ripparnas.
  3. Meningkatkan koordinasi dan sinergitas dalam rangka pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan serta pengelolaan sumber daya wisata alam, budaya dan buatan/ khusus, dalam rangka meningkatkan  nilai tambah bagi daya saing destinasi pariwisata, peningkatan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat;
  4. Meningkatkan aksesibilitas dan konektifitas  antara negara-negara sumber pasar utama dan hub regional dengan hub nasional dan atau destinasi pariwisata di Indonesia, baik dari aspek kualitas maupun kapasitas sarana dan prasarana transportasi darat, laut, udara dan penyeberangan;
  5. Meningkatkan aksesibilitas dan konektifitas antara hub nasional dengan destinasi pariwisata maupun antar destinasi pariwisata di Indonesia, baik dari aspek kualitas maupun kapasitas sarana dan prasarana transportasi darat, laut, udara dan penyeberangan;
  6. Meningkatkan kualitas dan kapasitas prasarana umum, fasilitas umum dan fasilitas wisata untuk kenyamanan kunjungan wisatawan di destinasi pariwisata;
  7. Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (digitalisasi kepariwisataan) dalam mendukung manajemen informasi kepariwisataan di destinasi pariwisata;
  8. Meningkatkan kesiapan dan peran masyarakat mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata dan nilai manfaatnya secara ekonomi bagi masyarakat;
  9. Menyiapkan kebijakan dan iklim kemudahan investasi, prospek peluang investasi dan promosi investasi untuk mendorong kegiatan investasi di berbagai destinasi pariwisata;
  10. Memperkuat eksistensi, hubungan serta komplementaritas peran dan fungsi antar mata rantai usaha pariwisata untuk penguatan ekosistem pariwisata di destinasi pariwisata;
  11. Meningkatkan Standardisasi dan Sertifikasi Usaha bidang Pariwisata untuk penguatan daya saing usaha pariwisata,
  12. Memperkuat pengembangan usaha pariwisata skala Mikro – Kecil – Menengah melalui regulasi dan fasilitasi jaminan usaha;

Jakarta, 30 Oktober 2015

BUTIR-BUTIR KONSOLIDASI PENYATUAN LANGKAH AKSELERASI PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA MANCANEGARA

Sektor strategis dan Pemangku Kepentingan yang terkait erat dengan Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara dengan ini meneguhkan komitmen kami untuk mendukung Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, melalui upaya-upaya :

  1. Mendukung deregulasi untuk meningkatkan jumlah negara yang mendapatkan kebijakan Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) ke Indonesia
  2. Mendukung penguatan dan perluasan program-program pencitraan (branding) destinasi pariwisata Indonesia (Wonderful Indonesia) secara eksternal di tingkat internasional
  3. Meningkatkan program-program promosi pariwisata berbasis on line maupun promosi off line;
  4. Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (digitalisasi kepariwisataan) dalam mendukung manajemen informasi dan basis data pasar wisatawan mancanegara;
  5. Meningkatkan penyelenggaraan event-event di daerah atau destinasi pariwisata untuk menjadi bagian dari Calendar of events nasional

Jakarta, 30 Oktober 2015

BUTIR-BUTIR KONSOLIDASI PENYATUAN LANGKAH AKSELERASI PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA

Sektor strategis dan Pemangku Kepentingan yang terkait erat dengan Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara dengan ini meneguhkan komitmen kami untuk mendukung Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, melalui upaya-upaya :

  1. Mendukung penguatan dan perluasan program-program pencitraan (branding) destinasi pariwisata Indonesia (Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia) secara internal di wilayah nasional Indonesia.
  2. Meningkatkan program-program promosi pariwisata berbasis on line maupun promosi off line, termasuk pengembangan branding destinasi pariwisata,
  3. Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (digitalisasi kepariwisataan) dalam mendukung manajemen informasi dan basis data pasar wisatawan nusantara;
  4. Meningkatkan penyelenggaraan event-event di daerah atau destinasi pariwisata untuk menjadi bagian dari Calendar of events nasional

Jakarta, 30 Oktober 2015

BUTIR-BUTIR KONSOLIDASI PENYATUAN LANGKAH AKSELERASI PEMBANGUNAN KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN

Sektor strategis dan Pemangku Kepentingan yang terkait erat dengan Pembangunan Kelembagaan Kepariwisataan dengan ini meneguhkan komitmen kami untuk mendukung Pembangunan Kelembagaan Kepariwisataan, melalui upaya-upaya  :

  1. Memperkuat fungsi dan efektifitas organisasi pemerintah, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat bidang kepariwisataan
  2. Meningkatkan program sertifikasi SDM kepariwisataan
  3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas Lembaga Pendidikan SDM kepariwisataan
  4. Mengembangkan regulasi yang mendukung percepatan pembangunan kepariwisataan,
  5. Meningkatkan kegiatan riset dalam mendukung pengembangan kebijakan pembangunan kepariwisataan,
  6. Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam mendukung manajemen data dan informasi pembangunan kepariwisataan;
  7. Meningkatkan kerjasama dan sinergitas antar lembaga yang terkait dengan kepariwisataan.

Jakarta, 30 Oktober 2015

Posted in Referensi | Leave a comment

Entah

Indonesia telah berusia 70 tahun, bagi saya semuanya berjalan seperti apa adanya, mengalir. Saya tidak bisa berpikir dan berkata seperti para kritikus di luar sana. Apakah saya tidak kritis, tidak sensitif dengan lingkungan atau tidak peduli dengan keadaan ?. Entahlah,,,,.

| Leave a comment