karengisla

….demi jiwa dan penyempurnaannya…..

Archive for December, 2007

Maintenance for Bathroom

Posted by karaengisla on December 5, 2007

Toilet 

Most toilets are made of vitreous china, although other materials are occasionally used. There are many different styles of toilets, the most common being the two-piece. This type of toilet has two separate components, the bowl and the tank. For the most part, these units are generally inexpensive and replacement parts readily available. One piece toilets, or siphon action toilets, are usually somewhat expensive. When flushed, the entire bowl surface is covered with water, however a quiet and smooth operation is associated with these units. Read the rest of this entry »

Posted in Room Division | Leave a Comment »

Basement Maintenance

Posted by karaengisla on December 5, 2007

Basement Walls

Basement walls are constructed out of several materials such as poured concrete, cinder block, stone, and occasionally wood. One common problem associated with basement walls is moisture penetration. Read the rest of this entry »

Posted in Room Division | Leave a Comment »

Makassar – Ujung Pandang – Makassar

Posted by karaengisla on December 4, 2007

Kota Makassar (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya; dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujungpandang atau Ujung Pandang) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan Read the rest of this entry »

Posted in Tours & Travel | 4 Comments »

Molecular Gastronomy

Posted by karaengisla on December 3, 2007

Top-rate chefs aspiring to a Michelin star or two, dinner-party throwers struggling with their soufflés or first-time cooks boiling an egg may find molecular gastronomy (MG) the answer to their prayers. Apparently, MG is not food science by a grander name. It is the science of cooking as practised at home or in restaurants. In more impressive terminology, molecular gastronomists define their discipline as the application of scientific principles to the understanding and improvement of small-scale food preparation. Read the rest of this entry »

Posted in Food Production | Leave a Comment »

Coto

Posted by karaengisla on December 2, 2007

Negara kita yang katanya sangat kaya dengan beragam budaya dan kebiasaan, termasuk beragamnya makanan pokok sampai pada makanan penutup. Misalnya dalam bahan makanan pokok kita kenal penamaan beras, mulai dari beras ‘kepala’ kampung sampai beras ‘mandi’ madu, dan yang lagi trend saat ini adalah raskin atau beras miskin (entah dari varietas apa).

Demikian pula dengan makanan lainnya, sebut saja dengan lawara’ (Makassar) lawa’ (Bugis-Palopo), Urap (Jawa) dan lain sebagainya. Sedangkan makanan yang dapat dikategorikan dengan Sup, tersebar di Nusantara ini dan tidak sedikit jenis dan namanya, mulai dari Soto Padang, Soto Sulung, Soto Batawi, Soto Madura, Coto Makassar, Kaledo. Kalau Kapurung agak sulit mengelompokkannya mengingat banyaknya ‘komponen bangsa’ yang terlibat dalam pembuatannya, sebut saja sagu, aneka sayuran, fish, poultry, beef,  maupun yang termasuk kategori game.

Salah satu jenis soup yang paling banyak di jual di Makassar (selain  sup saudara, apakah saudara kandung, saudara tiri, saudara angkat, atau saudara-saudara sekalian) adalah coto. Makanan berkuah ini sejak dahulu diklaim sebagai makanan tradisional suku Makassar. Content semangkuk coto biasanya terdiri dari hampir semua bagian dari seekor sapi atau kerbau (kecuali kulit dan tanduk, tulang serta kaki). Sedangkan ‘Leading actor’ yang bernama kuda dikenal juga sebagai bahan utama coto masyarakat Jeneponto – kabupaten yang jaraknya sekitar 70 kilometer selatan Kota Makassar.

Menurut para penikmat fanatik makanan berkuah ini, pada awalnya coto tidaklah sama dengan apa yang banyak di pasaran saat ini. Coto pada awalnya hanya terdiri dari babat sapi atau kerbau. Bumbu yang ‘terlibat’ juga tidak semeriah sekarang, yaitu hanya sereh, laos (Vietnam tidak ambil bagian), bawang merah dan putih serta kacang tanah yang disangrai kemudian ditumbuk, sedangkan H2O yang digunakan adalah air yang berasal dari ‘pencucian’ beras. Wadah yang digunakan untuk nge-boil adalah wadah yang terbuat dari tanah liat, sedangkan bahan bakarnya adalah kayu bakau. Sebagai pelengkap ditambah dengan bawang goreng dan daun seledry serta air perasan jeruk. Sambel yang digunakan adalah cabe rawit yang diulek dengan tauco lalu di-sautee. Coto disantap dengan ketupat (baik yang dibungkus dengan daun kelapa namun lebih afdhol bila disantap dengan ketupat yang dibungkus dengan daun pandan).

Saat ini coto yang banyak di pasaran sudah mulai meninggalkan ‘pakem’ aslinya, baik itu coto makassar, coto maros maupun coto bagadang. Misalnya daging yang digunakan bukan lagi daging lokal tetapi daging impor (mungkin mengikuti trend selebritis kita yang lebih senang kawin dengan ‘daging impor’). Hal ini perlu diwaspadai mengingat penyakit sapi gila masih sulit dideteksi, atau terdeteksi tetapi pedagang dagingnya pura-pura tidak tahu. Khusus untuk masyarakat muslim juga harus lebih berhati-hati, mengingat haram hukumnya bagi kaum muslim untuk memakan daging yang disembelih bukan atas nama Allah.Coto saat ini juga sudah melibatkan banyak ‘supporting actors and actress’, termasuk penggunaan bumbu yang mengandung zat kimia, misalnya MSG yang sangat besar intervensinya dalam mencoba memberikan ‘rasa lebih’ pada semangkuk coto. Termasuk bila coto disantap oleh cewek atau cowok yang sadar bahwa mereka ‘kurangmanis’, maka seringkali menambahkan kecap manis ke dalam cotonya.Untuk anda yang ingin menikmati semangkuk coto dan ketupat atau sepiring nasi, ada beberapa tips yang mungkin dapat anda gunakan :

  1. Pastikan anda mempunyai cukup dana (coto yang baik harganya dikisaran Rp.5.000 sampai Rp.9.000/mangkuk)
  2. Pilih penjual coto yang masih menggunakan wadah tanah liat dan kayu bakar untuk memasak coto
  3. Hindari coto yang menggunakan daging impor
  4. Jika anda makan coto sebelum pukul sembilan pagi, hindari babat dan sejenisnya, bisa jadi tingkat kematangannya yang kurang dapat mengikibatkan anda menderita penyakit cacingan.
  5. Hindari makan coto pada tempat yang ‘open 24 hours’. Bisa jadi dagingnya tidak segar lagi. 
  6. Mintalah kuah coto yang diambil dari bagian bawah, karena kuah bagian atas kandungan fat-nya lebih tinggi.
  7. Pastikan tekanan darah dan kadar cholesterol anda selalu dalam keadaan normal sebelum menyantap coto. Coto sangat ampuh menaikkan tekanan darah dan kadar cholesterol.

Posted in Food Production | 3 Comments »

Thomas Cook

Posted by karaengisla on December 2, 2007

Thomas Cook adalah pengusaha agen perjalanan berkebangsaan Inggris yang lahir di Melbourne England  (1808 – 1892). Menjadi Misionaris pada tahun 1828 dan kemudian aktif sebagai temperance worker. Pada tahun 1841 ia mencarter kereta api khsus untuk membawa penumpang dari Leicester ke Loughborough untuk sebuah temperance meeting. Kesuksesannya memimpin perjalanan inilah yang membuat namanya dipakai sebagai sebagai nama agen perjalanan. Cook  mengelola paket wisata yang melintasi Eropa termasuk menyediakan paket akomodasi bagi wisatawan mandiri. Disamping itu Ia juga mengelola jasa penyediaan furnishing termasuk tenaga kerja untuk keperluan pemerintahan Inggris. Termasuk dalam pengelolaan perusahaan perjalanannya adalah ekspedisi terakhir dari seorang Jenderal Inggris yang bernama Charles George Gordon ke Sudan pada tahun 1884.

Posted in Tours & Travel | Leave a Comment »